logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 Januari 2006 PANTURA
Line

Selamatkan Puluhan Perajin Keramik

KENAIKAN harga BBM menjadi pukulan berat bagi industri kecil keramik Desa Malahayu, Brebes. Kondisi itu menyebabkan sebagian besar perajin nyaris putus harapan, mengingat biaya produksi tak sebanding dengan pendapatan yang mereka peroleh.

Di tengah kebingungan akan tingginya harga BBM, H Muhammad Thoha AMK, salah seorang pengusaha asal Desa Banjarharjo, Brebes, spotan terpanggil untuk menyelamatkan masa depan para perajin.

''Keinginan memajukan kerajinan keramik Malahayu sebenarnya sudah lama terlintas di benak saya, namun selalu saja tertunda. Tapi, begitu menyaksikan kondisi koma mereka berkaitan kenaikan BBM, saya terpanggil untuk menyelamatkan,'' ujar lelaki empat anak itu, kemarin.

Upaya penyelamatan usaha kecil itu antara lain dengan menyelamatkan puluhan pekerja yang bekerja di sektor tersebut. Baik pekerja lokal, maupun yang terkena PHK dari industri keramik dari Yogyakarta, Karawang, Bandung maupun dari Jatim.

Mereka yang pulang kampung kemudian ditampung di tempat usahanya yang baru di Desa Banjarharjo. Menurut, suami dari Dra Hj Sri Wahyu Mugiharti, para pekerja asal Desa Malahayu yang lama menekuni sebagai pekerja di industri keramik memiliki keunggulan komparatif.

''Mereka adalah pekerja seni yang ulet dan lama bekerja di kerajinan keramik. Beberapa motif terbaru dikuasai dengan baik, sehingga sayang kalau tidak diberdayakan,'' ungkap pemilik usaha penerbitan buku Matarindo ini.

Sangat Penting

Disebutkan, upaya penyelamatan pertama ini sangat penting karena terkait dengan persoalan hajat hidup pekerja dan keluarganya. Karena itu diperlukan tindakan cepat supaya mereka tidak terlalu lama menganggur atau beralih profesi menjadi buruh tani yang pendapatannya di bawah standar kelayakan.

Sementara untuk memutar roda produksi dalam siatuasi biaya produksi yang tinggi, lelaki itu kini melakukan terobosan dengan membuka keran ekspor ke Asia dan Eropa.

Untuk kesiapan tersebut, dia membuat pabrik keramik diatas tanah seluas dua hektare yang dikelola dengan manajemen Thoha Putra Grup. Lokasi tersebut semula direncanakan untuk usaha perbengkelan dan ruang pamer kendaraan, namun karena begitu prihatinnya terhadap nasib pekerja lokal yang banyak menganggur, dia sulap menjadi tempat usaha kerajinan keramik.

''Banyak hal yang menjadi pertimbangan didirikannya pabrik ini. Selain peluang pasar produk gerabah masih tinggi, keunggulan komparatif para pekerja menjadi pertimbangan utama.''

Di pabrik tersebut, dia sengaja menggaet Kuntoro, jebolan ASRI Yogyakarta menjadi kepala bagian produksi.

Tentang harapannya kepada pemerintah, dia mengusulkan agar pemerintah kabupaten lebih serius melakukan pemberdayaan dan pembinaan terhadap perajin keramik.(Wahidin Soedja-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA