| Rabu, 25 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Mungkinkah Musda Pengda Pelti Dipercepat?MUTASI atlet tenis Jateng ke luar daerah sudah menjadi hal yang biasa, sehingga provinsi ini terkenal hanya sebagai "produsen" atlet muda. Ketika para atlet mulai berkembang, lebih dahulu diambil daerah lain, Jateng pun gigit jari. Sebagai contoh, pada PON 2000 Jateng hanya dapat perunggu di beregu putra. Kemudian di PON 2004 dapat satu emas, dua perak, dan satu perunggu. Artinya, Jateng sebagai gudang atlet berprestasi hanya sebatas di atas kertas. Kenapa itu bisa terjadi? Kita sadari bahwa semua itu akibat keterbatasan finansial Pengurus Daerah Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pengda Pelti) Jateng. Memang kita sepaham, bahwa tenis merupakan olahraga yang penuh dengan kemandirian. Tetapi semua pihak, baik klub, Pengcab, Pengda, serta KONI Daerah bahkan Pemprov, Pemkab/Pemkot harus berperan mencegah eksodus petenis muda yang sudah lama terjadi. Dari data statistik, Jateng mempunyai petenis muda potensial, seperti Lavinia Tananta, Lutfiana AB , Enrico Satrio, Agung Bagus, Reza Amarullah, dan Bramadita, serta generasi Cuk Prihatmanto, Yohanes Pintu, dan Ferza Gautama yang terbentur faktor usia. Jadi saat ini, sebenarnya Jateng hanya mempunyai dua pemain yang bisa diandalkan, yaitu Wynne Prakusya dan Prima Simpati Aji. Kondisi tersebut, tentu sangat berat kalau tidak ada solusinya. Hal itu juga dikeluhkan oleh Purnomo SH, mantan pelatih tim tenis putri Jateng di PON 2004 yang juga ayah Prima Simpatiaji. Melihat hal tersebut, Pelti Jateng mempunyai beberapa pilihan supaya atlet tidak melakukan eksodus. Pertama, bekerja sama dengan Pengcab, klub, KONI Kabupaten, dan Pemda (Pemprov, Pemkab/Pemkot), untuk memberikan dana pembinaan sesuai dengan kapasitasnya (prestasi), melalui satu pintu, sehingga tidak berkesan tanpa koordinasi dan tumpang tindih dalam pemberian tersebut. Kedua, membentuk super klub atau pemusatan latihan daerah (Pelatda). Atau mengadakan pertandingan dalam kurun waktu tertentu secara rutin, yaitu pemain dibagi menjadi beberapa divisi, dengan sistem promosi-degradasi. Sekalian, ada pelatihan atau diskusi bersama antarpelatih sehingga keilmuannya meningkat. Ketiga, memberikan pekerjaan atlet yang lepas dari sekolah. Hal itu bisa dilakukan apabila ada niat baik untuk memajukan tenis di Jateng. Keempat, bekerja sama dengan orang tua atlet untuk menarik kembali petenis asal Jateng, seperti Sandi Purnomo dari Klaten, Elbert Sie yang ibunya orang Purwokerto (keduanya pada PON 2004 di Palembang memperkuat Sumatera Selatan). Kemudian Sunu Wahyu Trijati dari Surakarta yang memperkuat Gorontalo. Di barisan senior, Liza Andriyani, Sulistyo Wibowo, dan Ariawan Purbo dari Tegal, Feby Widiyanto dari Salatiga, dan spesialis ganda Hendri SP dari Surakarta, Wukirasih Sawondari dari Purwokerto, serta Surya Wijaya dari Pekalongan. Hanya saja, untuk menarik semua pemain senior itu, jelas tingkat kesulitan lebih tinggi karena permasalahannya sangat kompleks. Jadi harus pintar-pintar memilah pemain. Kalaupun mau menarik pemain junior, harus melalui rekrutmen ketat. Mempercepat Musda Kelima, mempercepat Musyawarah Daerah (Musda) Pengda Pelti Jateng, mengingat deadline mutasi pemain berakhir pada April 2006. Jadi Pengda Pelti Jateng perlu kerja keras dan cepat, berlomba dengan waktu untuk mendukung pencapaian posisi Jateng di tiga besar dalam PON 2008. Untuk itu, sebagai langkah awal adalah diperlukannya pembenahan di tubuh organisasi Pengda Pelti Jateng, seperti mempercepat Musda. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pengurus yang akan habis masa jabatanya pada September 2006, alangkah baiknya tanpa digedak-gedak (dikejar) menyadari keterbatasannya dan segera mempercepat Musda Pengda Pelti Jawa Tengah. Bagaimana pun, dalam masyarakat paternalis sosok ketua sekarang ini kurang memadai untuk mengakomodasi dan menjalankan organisasi yang membutuhkan banyak waktu luang serta kecepatan bergerak. Semua tidak lepas dari posisi dan jabatan Ketua Pengda Pelti Jawa Tengah Tjipto Hartono, yang tidak lagi di Semarang. Imbas dari kondisi itu, adalah stagnasi organisasi. Dari beberapa hal itu, mungkinkah Pengda Pelti mau mempercepat Musda; dan mungkinkah pengusaha yang bergerak di media (ada) mau menjadi sosok nomor satu di Pengda Pelti Jawa Tengah? (Taufan Arif Ns, Sie Pembinaan dan Prestasi Pengcab Pelti Kota Tegal-28a) |