logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 Januari 2006 OLAHRAGA
Line

Trianingsih Berjaya di Thailand

JAKARTA - Pelari putri spesialis jarak jauh, Trianingsih, menyatakan bahwa kemenangannya di perlombaan 3rd Khon Kaen International Marathon yang digelar di Thailand pada 22 Januari 2006 merupakan pembuktian dirinya ke PB PASI, bahwa ia mampu memberikan yang terbaik untuk bangsa.

Pernyataan pelari kelahiran Semarang, 15 Mei 1987, tersebut berkaitan erat dengan sikap PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) yang mengeluarkan dia dan tiga rekannya dari Pelatnas, sehingga tidak dapat tampil di SEA Games XXIII, Manila, Desember 2005 lalu.

PB beralasan, dikeluarkannya keempat atlet Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) tersebut dikarenakan mereka mengikuti perlombaan lari yang tidak termasuk dalam progam latihan yang telah diberikan oleh PB PASI.

Pada perlombaan semi-marathon (21,1km) di Thailand yang diikuti pelari dari sekitar 30 negara tersebut, atlet yang kini bernaung di Klub Locomotive Salatiga itu membukukan waktu satu jam 16 menit 46 detik.

"Pada kejuaraan tersebut, saya tidak menyangka menang, karena pada awalnya saya hanya berkeinginan untuk mencari waktu terbaik saja," kata Trianingsih, yang lebih memilih berlatih di Salatiga jika ia terpilih masuk Pelatnas.

Selain menjuarai kejuaraan half marathon di Thailand pada 11 Desember 2005, Trianingsih juga menjuarai kejuaraan semi cross-country di Brunei Darussalam.

Pada kejuaraan yang menempuh jarak 21 km tersebut, Triyaningsih membukukan waktu satu jam 32 menit 22 detik, mengungguli pelari-pelari dari Kenya yang dikenal memiliki pelari jarak jauh yang andal.

Trianingsih yang setiap hari berlatih berlari dengan menempuh jarak sekitar 30 km itu pun telah mengagendakan untuk mengikuti 34th IAAF World Cross Country Championships pada 1-2 April 2006 di Fukuoka, Jepang.

"Harapan saya di Fukuoka nanti adalah memperbaiki catatan waktu saya. Tetapi, jika saya dapat memenanginya, maka saya pun akan bertambah senang," kata Triyaningsih yang memperkirakan lawan yang akan ia hadapi di Fukuoka akan lebih berat daripada kejuaraan di Brunei Darussalam.

Cabang Strategis

Sementara itu Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, menyatakan bahwa KONI akan lebih menaruh perhatian kepada empat cabang olahraga (cabor) strategis --atletik, senam, renang, dan menembak -- dengan tidak menutup kemungkinan bahwa keempat cabor tersebut dapat diikutsertakan ke Asian Games XV, Doha, Qatar.

"Jika keempat cabor strategis tersebut dapat menunjukkan prestasi baik dalam kurun waktu kurang dari satu tahun ini, maka kami dapat mempertimbangkan untuk memberangkatkan mereka mengikuti Asian Games XV mendatang," ujar Agum.

Jumlah medali emas yang diperebutkan dari keempat cabang tersebut ialah 137 emas, dan pada SEA Games Manila lalu Indonesia hanya dapat meraih delapan emas.

"Dengan kenyataan tersebut, maka untuk dapat menjadi juara umum dari suatu kejuaraan multievent, mau tidak mau keempat cabang olahraga tersebut harus dikuasai dengan baik," kata Agum.

Sementara itu Sekretaris Jenderal PB PASI, Tigor Tanjung, sangat berharap bahwa atletik dapat diberangkatkan mengikuti Asian Games.

"Atletik adalah mother of all sports, sehingga kami merasa sebaiknya atletik dapat diikutkan ke Asian Games mendatang," katanya yang juga menyebut atletik belum pernah absen dari Asian Games.

"Kami menyadari bahwa untuk meraih medali memang akan teramat sulit, tetapi kami berharap KONI dapat memberikan kuota masing-masing satu putra dan putri sebelum entry by number," katanya.

Hingga kini, PASI belum menentukan 10 atlet yang dijatahkan KONI Pusat untuk masuk dalam program Indonesia Bangkit. (ant-28a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA