| Rabu, 25 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Baghdatis, si Pembunuh RaksasaTURNAMEN tenis Grand Slam tak pernah kering dari kejutan. Ajang Australia Terbuka 2006 telah memunculkan Marcos Baghdatis (20) sebagai si giant killer alias pembunuh raksasa. Ketika kejuaraan dimulai, namanya tak masuk dalam hitungan. Namun pemilik peringkat 54 dunia ini langsung menjadi perbincangan setelah menyingkirkan unggulan kedua Andy Roddick (AS) pada babak keempat. Si rambut gondrong dari Siprus itu kian populer selepas mencapai semifinal dengan menumbangkan unggulan ketujuh Ivan Ljubicic (Krosia), kemarin. Lewat pertarungan panjang yang melelahkan, Baghdatis berjaya dalam duel selama lima set, 6-4, 6-2, 4-6, 3-6 dan 6-3. Kini dia tinggal menghadapi David Nalbandian (Argentina) untuk menembus partai puncak yang digelar Minggu mendatang. Siapa sebenarnya Baghdatis? Tiga tahun lalu dia memenangi Australia Terbuka Yunior. Dia juga pernah menjadi petenis nomor satu dunia yunior. Terinspirasi oleh ayahnya, Baghdatis mulai belajar tenis pada usia empat tahun. Jiwa petualangnya tampak kental pada saat dia meninggalkan Limassol menuju Mouratoglou Tennis Academy Paris dalam usia 14 tahun. Tahun lalu, ketika Baghdatis menembus ronde ketiga Australia Terbuka, dia dinobatkan sebagai Man of Year. Jika mampu lolos ke final, dia akan mendapat penghargaan lebih tinggi dari negaranya. Apalagi tenis bukan olahraga favorit di Siprus. (Edi Indarto, dari berbagai sumber-31) |