| Rabu, 25 Januari 2006 | KEDU & DIY |
Plastik Bekas Diubah Menjadi Peralatan BandBERMAIN band, marching band maupun drumben, memerlukan modal cukup besar. Tidak cukup hanya jutaan rupiah, bahkan bisa puluhan juta rupiah. Apalagi, selama ini masih banyak pihak yang bergantung pada peralatan impor. Namun kini penggemar band tak perlu bersusah payah menguras kocek terlalu banyak. Mengapa? Seorang perajin alat-alat band lokal dari Yogyakarta mampu membuat berbagai jenis alat musik itu dengan harga jauh lebih murah. Soal kualitas, tidak kalah jika dibanding dengan peralatan impor. Djamzuri yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia musik terutama perkusi, mencoba mewujudkan keinginannya mengolah barang-barang bekas menjadi satu set alat band. Dia membeli plastik-plastik bekas pembungkus barang impor menjadi perkusi. Tak hanya itu, bekas tempat tinta mesin fotokopi disulap menjadi belira. ''Semula saya memang bermain drumben, tahun 1960-an. Pertengahan tahun 1970 saya mulai berpikir mengapa tidak membuat alat musik sendiri, apalagi kalau membeli barang impor sangat mahal,'' tutur Djamzuri. Mulailah dia berkreasi, mencari bahan-bahan dasar pembuat alat band dengan memanfaatkan barang bekas. Dia menemukan, plastik pembungkus barang-barang impor sangat bagus untuk genderang. Dia pun mengumpulkan barang bekas lain seperti per persneling Vespa yang bisa dijadikan senar drum. Dibantu beberapa orang yang tergabung dalam PKBM Kyai Suratman, Kelompok Belajar Usaha Drum Band dengan alamat, Srandakan KM 9, Tegallayung Caturharjo, Pandak, Bantul, dia bekerja setelah ada pesanan. Pemesan kebanyakan berasal dari instansi di luar Jawa. Untuk sekali pemesanan, mulai dari pembuatan sampai latihan memainkan alat-alat, dia mematok harga Rp 11 juta. ''Perlu waktu tiga minggu untuk menyelesaikan pembuatan alat dan melatih anak-anak sekolah pemesan bermain drumben. Jadi harga itu sudah termasuk latihannya,'' papar Djamzuri yang juga gemar memelihara hewan melata. Prihatin Bapak tiga anak itu tidak semata-mata mencari keuntungan. Dia merasa prihatin karena cukup banyak sekolah yang berminat memiliki seperangkat drumben tetapi terkendala masalah dana. Apalagi, jika sekolah itu di pelosok atau luar Jawa. Uang mereka tak cukup untuk membeli peralatan impor. Dia pun bercerita menggemari musik sejak masih remaja. Dia mulai tertarik karena melihat para abdi dalem Keraton Yogyakarta memainkan drumben. Cukup puas memainkan alat-alat itu, dia berpikir bagaimana bisa membuat dan memiliki alat drumben sendiri. Setelah berkeliling akhirnya dia menemukan pilihan barang-barang bekas tak terpakai sebagai bahan dasar alat band. Karena semua bahan berasal dari barang bekas dan lokal, harga peralatan drumben itu menjadi jauh lebih murah jika dibanding dengan peralatan impor. Satu set drumben yang terdiri atas 25 perkusi, 12 melodi, 2 tongkat mayoret, 2 simbal, dan 12 colour flag, hanya Rp 11 juta. Padahal jika barang impor, bisa mencapai Rp 50 juta. Ada yang berminat memiliki seperangkat alat band dengan harga murah atau malah ingin membantu permodalan, bisa menghubungi dia lewat 0274-7154605 atau 08157906035. Selain memproduksi, lelaki ini juga mereparasi, menyewakan alat-alat band sekaligus melatih para konsumen. (Agung PW-39m) |