logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 Januari 2006 BANYUMAS
Line

Pengungsi Merasa Diombang-ambingkan

  • Diminta Segera Pindah

BANJARNEGARA - Para pengungsi korban longsor di Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, bingung.

Mereka juga merasa diombang-ambingkan oleh pemerintah melalui kebijakan penampungan sementara yang tak jelas. Padahal, mereka harus secepatnya memperbaiki kehidupan yang berantakan.

''Katanya kami bebas memilih tinggal di tenda atau rumah penduduk. Namun kenyataannya kami seolah seperti diusir dari pengungsian dan diminta segera pindah ke rumah penduduk,'' ujar Sartini (40).

Perempuan itu menuturkan selama ini menumpang di rumah Wartam di Sijeruk. Namun Senin (23/1) sore pemerintah desa dan kecamatan memerintah dia segera pindah. Dia memilih tinggal di tenda daripada menumpang di rumah penduduk. Sebab, menumpang di rumah penduduk tidak bebas. Dia juga khawatir muncul konflik dengan pemilik rumah lantaran bakal numpang berbulan-bulan.

Sementara itu, pengungsi lain menyatakan akan nekat menempati tenda. Namun mereka menunggu listrik menyala. Saat ini baru jaringan saja yang dipasang di tenda-tenda itu.

''Listrik harus segera menyala sehingga anak-anak bisa belajar. Kami tetap nekat tinggal di tenda, meski hujan dan angin,'' kata Khotimah (50) di kompleks tenda pengungsian.

Dia menyatakan sejak Minggu (22/1) sudah sembilan keluarga pindah ke tenda. Namun aparat desa dan kecamatan tak memperbolehkan, dengan alasan akan segera dibangun rumah tinggal permanen. Akhirnya mereka meninggalkan tenda dan menuju ke rumah penduduk.

Dipaksa

Sekelompok pemuda Gunungraja juga mengungkapkan kekesalan. Mereka heran dan bingung karena seolah-olah dipaksa dan tak bebas memilih. Begitu pula para pengungsi di rumah Wartam. Mereka kesal karena terpaksa menghentikan pembuatan dapur umum dan harus pindah ke rumah penduduk yang lain.

Kepala Desa Sijeruk, Basirun, membantah telah memaksa pengungsi meninggalkan penampungan di SDN Sijeruk dan rumah Wartam. Aparat desa dan kecamatan, kata dia, memberikan kelonggaran dan pilihan ke pengungsi. ''Semua jelas, siapa tinggal di rumah siapa. Mereka pindah dari tenda ke rumah warga karena hujan dan angin, bukan dipaksa,'' ujarnya.

Dia menyatakan sampai Senin sudah sekitar 40 keluarga menampung para pengungsi. Sementara itu masih ada tujuh rumah lagi masih kosong dan belum ditempati. Setiap rumah ditinggali dua-lima keluarga pengungsi.

''Sejak awal warga kami bersedia menampung mereka. Jadi kami tak khawatir akan muncul konflik dengan para pengungsi,'' katanya.

Dia mengemukakan yang terpenting secepatnya dibangun rumah permanen untuk pengungsi. Jadi mereka tak terlalu lama menumpang atau tinggal di tenda. (mos-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA