logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 Januari 2006 NASIONAL
Line

Tiba di Asrama, Dua Haji Dirujuk ke RS

BOYOLALI-Dua haji, Madngumar Al Kismah eks kloter 26 dari Kebumen dan Sudar eks kloter 47 dari Banjarnegara, sampai kemarin masih menjalani perawatan di RS dr Moewardi. Karena Madngumar menderita gangguan ginjal dan Sudar sakit jantung, keduanya diperkenankan pulang ke Tanah Air lebih dulu.

Sesuai dengan jadwal, Madngumar semestinya baru tiba Rabu (25/1) pukul 14.00 bersama kloter 26, sementara Sudar Rabu (1/2) pukul 17.05. ''Karena kondisinya tidak memungkinkan, Pak Madngumar langsung diikutkan pada kloter 17, sementara Pak Sudar diikutkan dengan kloter 18. Kedua kloter telah tiba Minggu malam kemarin,'' kata H Juair dari Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Adisumarmo.

Dari Makkah, seperti dikutip sistem komputerisasi haji terpadu (siskohat), dilaporkan bahwa jumlah kunjungan jamaah ke BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia) Subdaker Jeddah meningkat drastis.

Dari yang biasanya 30 haji per hari, meningkat menjadi lebih 200 haji per hari. Hal itu membuat petugas medis di BPHI menjadi makin sibuk mengurus kedatangan jamaah itu. Setiap hari rata-rata jamaah menjalani perawatan di BPHI karena berbagai keluhan gangguan kesehatan. Mulai dari gangguan saluran pernapasan, kecapekan, hingga penyakit otot.

''Pada umumnya jamaah juga merasa daya tahannya menurun, setelah lama menunggu di bandara karena banyak pesawat yang terlambat,'' kata seorang petugas medis di BPHI Subdaker Jeddah seperti dikutip Juair.

Dipaksa Foto

Sementara itu, anggota Komisi E DPRD Jateng, Ali Mansyur HD, menyampaikan banyak anggota jamaah haji dari Jateng yang kehilangan barang-barang karena kecopetan, penipuan, dan perampasan. Korbannya rata-rata berusia di atas 60 tahun.

''Kasus perampasan, dilakukan dengan membuka paksa tas jamaah dan mengambil uangnya. Pelaku merampas tas tangan, dan dilakukan di tempat-tempat sepi,'' ungkap Ali Mansyur dari Tanah Suci kepada Suara Merdeka, semalam.

Selain itu, ada beberapa kejadian yang memprihatinkan, seperti di Jabal Rahmah. Menurut keterangan dia, jamaah haji dipaksa foto dan harus membayar 40 riyal untuk sekali foto.

Jamaah haji juga dibantu secara paksa oleh 2-3 orang untuk mencium Hajar Aswad. Sesudah berhasil mencium, jamaah dipaksa membayar 200 riyal-600 riyal.

Wakil Ketua FKB Jateng itu menyatakan, banyak anggota jamaah haji yang kehilangan, tetapi enggan melapor karena malu. Sebab, ada pandangan kalau kehilangan di Tanah Suci dianggap sebagai aib dan merupakan balasan atas apa yang diperbut di Tanah Air.

''Tentu saja itu pandangan yang tak bisa dibenarkan, karena yang namanya musibah bisa terjadi di mana saja,'' ujarnya.

Lebih dari 15 anggota jamaah haji yang melapor kehilangan melalui ketua kloternya, dibantu langsung oleh Pemprov Jateng lewat TP4H Jateng. Jumlah bantuan berkisar Rp 400 ribu per orang.(G13, an, G1-29,60ta)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA