logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 Januari 2006 NASIONAL
Line

Kisah Pemancing Tersapu Ombak (2-Habis)

Kekasih dan Ayahnya Ikut Jadi Korban


EVAKUASI KORBAN: TIM SAR dari Polisi Air Polda Jateng mengevakuasi korban tenggelam, Didit (19), warga Karanganyar RT 7 RW 13, Muktiharjo Kidul, Pedurungan, ke dermaga Adpel Tanjung Emas, Senin (23/1). Jenazah Didit kemudian dilarikan ke Kamar Mayat RSUP Dokter Kariadi. (57a) - SM/Karyadi

PUPUS sudah impian Rini, panggilan akrab Parini (22), warga Karanganyar RT 7/RW 13, Muktiharjo Kidul, Pedurungan, Semarang, untuk hidup bersama dengan kekasih pujaan hatinya. Gadis manis itu tidak hanya kehilangan calon tunangannya, Yuda Permana (22), warga Kintelan Baru; melainkan juga kehilangan ayahnya, Radat (45).

Tak heran, bila kenyataan itu membuat hatinya sangat pilu. Yuda dan Radat ikut tewas terseret ombak saat memancing di dam merah Pelabuhan Tanjung Emas, bersama tujuh orang lainnya, Minggu (22/1).

Mayat Yuda ditemukan tim SAR mengambang di ujung paling timur dam merah. Kondisi mayatnya sangat mengenaskan. Di kepalanya terdapat luka, diduga karena terbentur dam.

Adapun Radat, hingga petang kemarin belum diketahui keberadaannya. Namun banyak yang menduga lelaki itu juga ikut tewas. Tim SAR Gabungan masih akan melanjutkan mencari Radat, berikut seorang korban lainnya, Paimo, Selasa (23/1) ini.

Yuda dan Rini, terbilang pasangan muda-mudi yang cukup setia. Cinta mereka yang terajut sejak duduk di kelas 1 SMA Mataram Semarang, masih utuh hingga keduanya sama-sama melanjutkan studi di Akademi Refraksi Optici (ARO) Widyahusada RSUP Dokter Kariadi.

Begitu dekatnya hubungan mereka, di antara keduanya pun tidak asing lagi di depan orang tua masing-masing. Bahkan, Ny Suwarni (ibu Rini) menganggap Yuda layaknya anak sendiri.

Rini pun kini hanya bisa memendam duka yang amat dalam. Kesedihannya tampak pada kelopak matanya yang membengkak, karena sering menangis bila teringat calon suami dan ayahnya.

Perasaan kecewa pun makin menjadi, manakala dia berandai-andai kalau saja Yuda mengurungkan niatnya pergi memancing.

Jadi Bubur

Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Yuda kini sudah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Rini mengisahkan, sebelum peristiwa itu terjadi, Sabtu (21/1) malam, Yuda apel (berkunjung) ke rumahnya. Sekitar pukul 21:00, kekasihnya itu pulang. Namun Yuda menampakkan hal yang aneh, tidak seperti biasanya.

''Malam itu, Yuda pulang tidak pamitan kepada saya. Tahu-tahu dia pergi saja. Padahal biasanya, kalau pamitan dia mencium tangan saya. Tetapi kali ini kok tidak,'' tuturnya.

Beberapa saat berlalu, lanjut Rini, tiba-tiba Yuda menghubunginya lewat telepon. Yuda memberitahukan bahwa salah satu ban roda motornya kempis.

''Dia sempat khawatir, bagaimana kalau besok pagi (Minggu, 22/1-Red) tidak bisa berangkat memancing bersama bapak saya (Radat),'' kata Rini.

Tetapi Yuda mengatakan, masalah motor tidak jadi penghalang. Kalau ditinggal, dia akan menyusul ke Tambaklorok, tempat bertolaknya perahu menuju dam.

Minggu sekitar pukul 03:00, ayahnya sudah bangun untuk persiapan mancing ke dam merah. Ditunggu sekitar satu jam, ternyata Yuda belum juga muncul. Ayahnya pun meninggalkan Yuda, dan berangkat bersama tujuh orang lainnya menuju ke Tambaklorok.

Yuda, kata Rini, kemudian datang ke rumahnya sekitar pukul 04:00. Sebelum Yuda berangkat, Rini membuatkan mi instansi terlebih dahulu. Maksudnya, agar mi instan itu digunakan untuk sarapan Yuda.

''Namun Yuda tampak tergesa-gesa. Dia langsung berangkat menyusul rombongan pemancing ke Tambaklorok,'' tambah Rini.

Ny Suwarni menambahkan, dirinya merasakan ada firasat kurang enak, sehari sebelum peristiwa itu terjadi. Dia melihat ada seekor burung gagak bergaok-gaok (bersuara) di atas pohon di dekat rumahnya. Selain itu, dia juga bermimpi seolah-olah suaminya pulang dari memancing mendapat ikan yang sangat banyak.

''Ikan itu besar-besar. Tetapi satu ekor ikan mati. Namun hal itu tidak saya hiraukan. Ternyata, mimpi itu merupakan firasat bahwa bapak terkena musibah,'' kata Suwarni.

Dia mengaku sebelum berangkat, Radat sempat pamitan kepadanya akan memancing. Dia tidak merasa khawatir, karena hal itu sudah sering dilakukan suaminya untuk mengisi hari kosong.

Radat juga sempat membuat kopi sendiri di dapur. Kopi itu diseduh dengan air hangat sebanyak satu botol ukuran besar. Kopi itu dimaksudkan sebagai bekal saat mancing agar tidak mengantuk.(Karyadi-14a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA