logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 Januari 2006 NASIONAL
Line

Lagi, Empat Mayat Pemancing Ditemukan

SEMARANG -Empat mayat pemancing yang tenggelam di perairan kolam Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Senin kemarin ditemukan oleh Tim SAR Gabungan. Dengan demikian, masih dua orang lain yang belum ditemukan dan dalam pencarian.

Keempat mayat itu diketahui bernama Yuda Permana (22), warga Kintelan Baru 27/C; Rusadi (35), warga Kampung Karanganyar RT 1/RW 13, Muktiharjo Kidul, Pedurungan; Didit (19), warga Karanganyar RT 7/RW 13, Muktiharjo Kidul, Pedurungan; dan Suradi (38), warga Tirtoyoso, Mlatiharjo, Semarang Timur.

Adapun dua orang yang masih dalam pencarian Tim SAR Gabungan yang dipimpin Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Emas itu, Radat (45) dan Paimo (50), adalah warga Kelurahan Muktiharjo Kidul, Pedurungan.

Sehari sebelumnya, Minggu (22/1), mayat Joko Sobo (30), warga Karanganyar RT 8/RW 13, Muktiharjo Kidul, Pedurungan, ditemukan oleh seorang nelayan. Dua pemancing lainnya, Solikin (41) dan Nur Sa'di (40), keduanya warga Karanganyar RT 7/RW 13, ditemukan dalam keadaan selamat.

Pencarian korban Paimo dan Radat, petang kemarin terpaksa dihentikan, sebab cuaca buruk dan ombak laut cukup tinggi mencapai dua meter.

Komandan SAR Daerah (SAR-Da) Jateng, Eko Prajitno SH menyatakan, pencarian akan dilanjutkan Selasa (24/1) ini.

''Mulanya ombak tidak begitu besar; tapi mulai pukul 16:00, badai makin kuat dan ombat makin tinggi mencapai dua meter. Kami tidak bisa melanjutkan pencarian, dan akan kami lanjutkan besok (hari ini-Red),'' katanya.

Kepala Adpel Tanjung Emas, Drs Sukardi mengemukakan, sebenarnya kawasan pelabuhan bukan untuk kegiatan memancing. Musibah yang terjadi, disebabkan pelanggaran yang dilakukan oleh para korban. Pihaknya telah memasang larangan memancing di area pelabuhan, tetapi banyak orang yang tidak mengindahkannya.

Larangan Dilanggar

''Tulisan larangan memancing sudah kami pasang di dam maupun di area kerja pelabuhan lainnya. Untuk itu, kami mengimbau kepada warga agar tidak memancing di wilayah kerja pelabuhan, karena sangat berbahaya,'' katanya.

Sukardi menegaskan, memancing di dam (pemecah gelombang) pelabuhan sangat berbahaya. Ombak besar yang mengempas dam, memiliki ketinggian melebihi dam. Belum lagi, kondisi permukaan dam yang licin. Bila gelombang menerjang, sulit bagi siapa pun untuk menghindarinya.

Mengenai pencarian korban, pihaknya memiliki waktu selama tiga hari. Setelah itu, pihaknya bersama tim SAR terkait akan melakukan koordinasi untuk mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan.

Lagi....

(Sambungan hlm 1)

''Bila memungkinkan dan ada informasi mengenai keberadaan mayat, maka kami akan kembali melakukan aktivitas. Namun bila memang mengalami kesulitan, pencarian korban bisa dihentikan,'' paparnya.

Pecahan Perahu

Sementara itu, kemarin ditemukan beberapa lembaran kayu, yang diduga kuat sebagai lembaran kayu pada tubuh dan geladak perahu yang hanyut di pantai Tambaklorok. Nelayan setempat meyakini, telah ada sebuah perahu nelayan yang pecah akibat dihantam gelombang ganas di perairan Semarang.

Bersama lembaran dan geladak perahu itu, hanyut pula perkakas rumah tangga, di antaranya tremos.

Seorang saksi, Mashur (35), warga Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, mengaku yakin ada perahu nelayan yang pecah. Dia menduga kuat, pecahnya perahu itu disebabkan oleh hantaman ombak laut yang sangat kuat.

''Saya yakin, kayu-kayu itu adalah potongan kayu pada bodi perahu nelayan. Buktinya, pecahan kayu-kayu itu masih baru. Bahkan, lembarannya mirip dengan lembaran pada bodi perahu,'' kata Mashur.

Namun, lanjut dia, hingga siang kemarin belum terdengar ada warganya yang melaporkan telah kehilangan anggota keluarganya.

Bisa jadi, kata dia, nelayan yang mengalami kecelakaan di laut itu adalah nelayan dari daerah lain.(G5-14a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA