logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 Januari 2006 SEMARANG
Line

Pendidikan yang Mandiri

Oleh: Anto Prabowo

MINGGU, 15 Januari 2006, saya berada di antara ratusan orang tua dan anak-anak yang ingin melihat kegiatan open house SMP Pangudi Luhur Domenico Savio, Jl Dr Sutomo Semarang. Banyak kegiatan ditampilkan para siswanya. Antara lain, drama, band, taekwondo, pertandingan basket three-on-three. Selain itu juga ada pameran karya siswa, yakni lukisan, komik-komik, fasilitas pendukung kegiatan ekstrakurikuler, serta sejumlah prestasi yang ditorehkan siswa sekolah tersebut di tingkat regional ataupun nasional.

Pada tengah hari, terjadi hujan deras. Pertandingan basket antarkelas II yang diselenggarakan di lapangan terbuka terpaksa bubar. Namun hujan itu tak mengganggu pertunjukan band yang menampilkan siswa-siswa bertalenta musik di panggung bertenda dekat lapangan basket.

Bagi saya, semuanya menarik. Apalagi, aktivitas itu dilakukan oleh anak-anak beranjak remaja dengan wajah gembira. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah syair yang tertempel di salah satu ruang kelas yang dijadikan pameran. Berikut kutipan syair tersebut. "Aku tidak memilih menjadi insan biasa. Memang hak-ku untuk menjadi insan luar biasa. Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan.

Aku tidak akan menjual kebebasanku. Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma. Aku tidak akan merendahkan diri dari sembarang atasan dan ancaman. Aku memilih tantangan hidup daripada derm....."

Jika dihayati, esensinya adalah mentalitas pionir, pembaharu, dan kehendak kuat yang tak lekang oleh godaan ataupun ancaman. Dengan bekal itu, dalam kondisi apa pun seseorang mampu bertahan untuk mengembangkan diri di lingkungannya.

Apakah syair itu menjadi spirit sekolah tersebut dalam pendidikan yang dilakukannya? Saya tidak tahu persis. Yang jelas, saya merasa spirit tersebut sangat kontekstual untuk kondisi Indonesia sekarang dan saat mendatang.

Harapkan ''Derma''

Di sisi lain, negara pun dibebani oleh orang-orang yang mengharapkan "derma" darinya, baik sebagai kepala daerah, birokrat, anggota legislatif, yudikatif, aparat keamanan, dan pegawai-pegawai lain yang dibiayai negara. Sering terjadi, untuk mendapatkan status "berhak dibiayai negara", orang harus menyogok sana sini. Setelah itu, sebagai kompensasinya, mereka melakukan pemerasan pada rakyat yang hendak mendapatkan berbagai perizinan atau sekadar surat keterangan.

Dari mana negara mendapatkan kapital untuk membayar orang-orang itu? Jawabnya kita tahu, utang luar negeri, yang dibayar dengan eksploitasi sumber alam tambang dan hutan. Saat ini masih relatif sedikit karya anak bangsa yang bisa dijual untuk memasuki pasar-pasar internasional.

Menjawab kondisi suram itu, kita tentu sangat membutuhkan individu tidak manja yang mengharap lowongan kerja, namun berjiwa mandiri, perintis, dan pembaharu. Kalau negara belum mampu memberikan kondisi yang kondusif untuk menghasilkan individu-individu seperti itu, kemungkinan mereka akan lahir berkat pendidikan dalam keluarga, lewat kultur-kultur etnik yang kuat serta lewat lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki spirit pionir, yang bisa memandirikan peserta didiknya.

Mungkin ada yang bertanya, dengan masuk ke sekolah yang memiliki spirit seperti syair di atas, apakah otomatis menjadi manusia luar biasa? Tentulah tidak demikian.

Bagi sekolah-sekolah, tentulah menjadi tantangan menarik menerjemahkan spirit dari syair itu dalam praksis pendidikan dan pembe lajaran. Pada aspek kognitif, tantangannya bagaimana memberikan pengetahuan lewat materi-materi pelajaran. Pada aspek afeksi, bagaimana membentuk sikap baik lewat keteladanan para guru maupun interaksi yang dibangun dalam proses pembelajaran yang membuat siswa tertantang mengerjakan hal yang sulit, tapi gembira. (18d)

- Penulis adalah wartawan Suara Merdeka di Semarang, relawan di Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI).


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA