logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 Januari 2006 SEMARANG
Line

Berharap Untung dari Ranting-ranting Mei Hua

Setiap kali tahun baru Imlek datang, pohon mei hua tak pernah ditinggalkan. Daunnya yang kecil-kecil berwarna merah muda dengan kombinasi keputih-putihan itu menjadi aksesori pilihan. Pohon ini dihiasi dengan pernik-pernik seperti pohon cemara dalam perayaan Natal bagi umat Kristiani, termasuk angpau.

Pohon mei hua memang tak sekadar dekorasi. Pohon ini juga sebagai perlambang harapan, keuletan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Hal ini tak lepas dari keberadaan pohon tersebut yang tetap berkembang selama empat musim.

Merebaknya penghias pohon mei hua ini juga dilatarbelakangi cerita legenda dari negeri Tiongkok. Dikisahkan, kakak beradik Da Jui (Si Mulut Besar) dan Da Shou (Si Tangan Besar) memiliki sifat bertolak belakang. Da Jui berupaya menguasai harta adiknya dengan cara mengusirnya.

Dia yang pemalas dan serakah itu memberi si adik dengan bagian harta yang sedikit, yakni 3 rumah sederhana, 10 hektare sawah tandus, seekor anjing dan kambing. Karena sifat buruknya itu, lama-kelamaan harta Da Jui menipis. Bahkan keledai dan kuda pun dijual untuk membeli bahan makanan.

Da Shou dan keluarganya tetap berupaya bekerja keras. Dengan dibantu anjing dan kambingnya, ia mengerjakan sawah dengan tekun. Akhirnya hasil mereka berlimpah dan memiliki banyak cadangan makanan untuk musim dingin.

Melihat kesuksesan Da Shou, timbul niat jahat Da Jui untuk membunuh anjing dan kambing adiknya itu. Kedua hewan itu mati setelah makanannya ditaburi racun. Tentu saja keluarga Da Shou berduka. Lalu kedua hewan itu dimakamkan di pekarangan belakang rumah mereka.

Tumbuh Pohon

Ketika memasuki musim semi tahun kedua, di atas makam tersebut tumbuh dua batang pohon kecil. Satu dari pohon tersebut bisa menghasilkan emas, sedangkan batang yang lain menghasilkan perak. Sejak itu kehidupan Da Shou menjadi makmur.

Dari cerita tersebut, kini masyarakat Tionghoa berupaya meneladaninya dengan memajang pohon mei hua setiap perayaan tahun baru Imlek. Termasuk dalam penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis yang akan dilaksanakan 25-27 Januari.

Menurut Djoenaidi Slamet, pembuat pohon mei hua untuk Pasar Imlek, pohon setinggi 6 meter tersebut akan dipasang di pertigaan antara Gang Tengah dan Gang Pinggir di kawasan Pecinan. Ia merangkai pohon dari bunga kertas dan batang angsana yang sudah mati dan dikeringkan.

Untuk mendapatkan hasil yang benar-benar mirip aslinya, ia tak hanya berkreasi membentuk sebuah pohon, tetapi juga menggunakan perasaan seni. Batang-batang pohon harus terlihat kompak dan imbang sehingga hasilnya bisa bagus.

Dengan disponsori pengusaha Haryanto Halim, dalam pembuatan pohon mei hua ini, Djoenaidi membutuhkan waktu lima hari. Dana pembuatan yang dikeluarkan mencapai lebih dari Rp 10 juta. Pengunjung bisa mencari peruntungan dari amplop-amplop yang digantung di ranting-ranting pohon. (Moh Anhar-18n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA