logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 Januari 2006 SEMARANG
Line

Warga Keluhkan Jatah Raskin

SEMARANG-Penurunan jatah beras bagi rumah tangga miskin (raskin) yang disalurkan lewat kelurahan menuai keluhan. Banyak warga yang menginginkan agar pemerintah menambah pagu raskin sehingga jumlah yang memperoleh bisa bertambah. Ada juga usulan agar raskin yang diterima lewat kelurahan itu dibagi rata, walaupun warga menerima kurang dari jatah yang ditetapkan, yakni 10 kg-15 kg per kepala keluarga (KK).

Di Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur misalnya, muncul usulan agar beras itu didistribusikan bagi warga miskin yang tahun lalu menerimanya. Pada musyawarah kelurahan (muskel) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, terungkap aspirasi warga semacam itu. Namun, pihak kelurahan tidak berani mengabulkan permintaan itu, mengingat sesuai instruksi Wali Kota, raskin hanya ditujukan bagi rumah tangga miskin (RTM) penerima Subsidi Langsung Tunai (SLT) sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS).

''Sesuai surat edaran Wali Kota tentang pelaksanaan raskin, hanya penerima SLT yang berhak menerimanya. Kami akan mendistribusikan raskin sesuai edaran itu. Tapi, kami berharap, pemerintah memperhatikan juga aspirasi yang berkembang di kalangan warga kami itu,'' ujar Lurah Sampangan Supriyo Burham, Senin (23/1).

Sebelumnya, Kepala Bagian Ekonomi Setda Masrohan Bahri sebagai Ketua Satgas Raskin mengatakan, Pemkot menyerahkan mekanisme pembagian raskin kepada lurah dan camat. Kedua pejabat itu dapat mengatur pembagian sesuai jumlah warga miskin yang layak memperoleh raskin. Masrohan tidak menolak jika ada kelurahan yang membagikan raskin kurang dari 10 kg per RTM karena pagu yang diberikan tidak mencukupi.

Supriyo Burham menjelaskan, beras miskin untuk Kelurahan Sampangan telah tiba, yakni sejumlah 3.480 kg atau turun hampir 1,5 ton dibandingkan tahun lalu. Pada 2005 lalu, kelurahan itu memperoleh raskin sebanyak 4.900 kg.

Selanjutnya, kata dia, raskin itu siap didistribusikan kepada 280 penerima SLT tahap I, dengan harga Rp 1.000 per kg. Sesuai dengan ketentuan, tiap RTM maksimal bisa membeli sebesar 15 kg.

''Kami berharap, BPS segera memberikan data penerima SLT, sehingga bisa segera didistribusikan,'' katanya.

Paceklik

Keluhan serupa juga muncul dari warga Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara. Sekretaris Kelurahan Sri Maryanti menjelaskan, tahun ini jatah raskin di wilayahnya berjumlah 23 ton, atau turun sekitar 0,5 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Sesuai data BPS, tercatat 1.552 KK yang berhak menerima raskin itu.

Persoalan yang dihadapi Tanjungmas, kata dia, batas antara warga miskin dengan yang tidak, begitu tipis. Dari 7.760 KK yang ada di wilayahnya, boleh dibilang hampir semuanya layak memperoleh raskin.

''Terlebih, warga kami di Tambaklorok, yang berprofesi sebagai nelayan. Saat ini boleh dibilang merupakan musim paceklik, karena mereka tidak bisa melaut dengan kondisi angin kencang dan ombak besar,'' katanya.

Namun, kalau pembagian diprioritaskan bagi 33 RT di Tambaklorok, kata dia, besar kemungkinan pihak kelurahan akan menuai protes dari warga lain. Untuk itu, pihaknya mengambil jalan tengah, yakni menyalurkan raskin lewat RT, yang dipandang memahami betul kondisi warga.

Lurah Tinjomoyo Ngadiyono mengatakan, pihaknya akan mengikuti edaran Wali Kota, untuk menyalurkan raskin kepada penerima SLT, sesuai data BPS. Tahun ini, wilayahnya menerima 2.970 kg raskin, atau hampir separuh dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 5.800 kg. Beras itu akan disalurkan untuk 239 RTM, dengan alokasi maksimal 15 kg per RTM.

''Kalau ada warga yang protes karena tidak memperoleh raskin, silakan ke BPS. Sebab, kami hanya menyalurkan sesuai edaran yang kami terima,'' kata Ngadiyono. (H9,H5-44)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA