logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 Januari 2006 SEMARANG
Line

Tempat Relokasi Belum Disepakati

SEMARANG - Mengingat kondisi tanah yang ditinggalinya mengkhawatirkan, warga Gumpilsari menyatakan kesediaan untuk direlokasi. Hal itu terungkap dalam pertemuan dengan PT Putra Wahid Sejahtera (PWS), yang difasilitasi Pemkot Semarang di Balai Kelurahan Tinjomoyo, Senin (23/1). Hanya saja, pertemuan itu belum menghasilkan kesepakatan tentang mekanisme dan tempat yang akan digunakan untuk relokasi.

Melalui Ketua RT 1 RW 5, Ratiman, warga Kampung Gumpilsari menyatakan, secara prinsip mereka tidak menolak relokasi. Hanya saja, mereka menginginkan bisa direlokasi ke tempat yang tidak jauh dari kota, seperti tempat tinggal mereka sekarang. Selain itu, mereka minta dibangunkan rumah sederhana tipe 36, dengan dua kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Diharapkan, rumah itu dilengkapi dengan fasilitas pendukung, seperti penerangan dan air PDAM.

"Soal lokasi, kami harapkan tak jauh dari kota. Kalau tanah di RW 1 seperti yang ditawarkan PT PWS, warga belum tahu persis lokasi dan kondisinya. Kami khawatir, keadaannya tidak berbeda dengan Kampung Gumpilsari. Apa tidak membahayakan bagi warga?" ujar Ratiman.

Pertemuan yang dipimpin YMT Asisten II Sekda, Ir Bambang Haryono, itu dihadiri oleh Camat Banyumanik, Suciarso Jarot; Lurah Tinjomoyo, Ngadiyono; pihak Koramil 05 dan Polsek Banyumanik; pejabat dinas-dinas terkait, serta para warga Gumpilsari. Sementara itu, dari PT PWS hadir Project Manager, Ir Benny Gunawan.

Selain direlokasi, warga juga menginginkan agar tanah di Kampung Gumpilsari tetap menjadi milik mereka dan dibeli oleh PT PWS separuh dari Harga Pasaran Umum (HPU). "Sesuai informasi terakhir, harga tanah di Gumpilsari Rp 250.000/m2, yakni tanah milik Pak Sukarman yang dibeli PT PWS," kata Ratiman.

Alternatif Relokasi

Di hadapan warga, Benny Gunawan menyatakan niat merelokasi warga di tanah milik PT PWS, yang terletak tak jauh dari lokasi Gumpilsari. Dikatakannya, PT PWS memilih alternatif lokasi yang cukup luas, yakni sekitar 10-15 hektare yang bisa dipilih warga.

"Tawaran relokasi yang kami sampaikan merupakan wujud kepedulian PT PWS kepada warga yang terkena musibah. Selanjutnya, tanah Gumpilsari akan digunakan untuk konservasi, mengingat karakteristik tanahnya tidak bisa digunakan untuk lainnya," terang Benny.

Dikatakannya, lahan di Gumpilsari merupakan tanah labil, berupa tanah hitam yang jenuh air. Jika hujan terjadi terus-menerus dan kandungan air di dalam tanah mengalami kejenuhan, besar kemungkinan akan terjadi longsor. Langkah yang bisa dilakukan PT PWS, kalau tanah itu dibeli nanti, untuk membuat bangunan guna menjaga agar tanah tidak mengalami longsor.

Untuk membahas lebih lanjut tentang rencana relokasi, dibentuk tim kecil yang terdiri atas warga, RT, dan tokoh masyarakat. Rencananya, mereka dijadwalkan akan melakukan perundingan lanjutan dengan perwakilan PT PWS, Senin (30/1) pekan depan.

Diharapkan, pada pertemuan mendatang, PT PWS bisa menyampaikan paparan lebih detail tentang rencana relokasi, termasuk lokasi dan site plan-nya.

Sementara itu, diharapkan, warga lewat kelurahan melaporkan luasan tanah yang mereka diami di Gumpilsari, luas bangunan, dan jumlah anggota keluarga yang meninggalinya. "Saat ini, pendataan telah kami lakukan. Namun, belum semua warga menyampaikan fotokopi sertifikat tanahnya," ungkap Lurah Tinjomoyo, Ngadiyono. (H9,H5-44h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA