| Selasa, 24 Januari 2006 | INTERNASIONAL |
Krisis Suksesi Melanda KuwaitKUWAIT - Krisis suksesi makin dalam mencengkeram Kuwait. Konfrontasi antara emir baru dan parlemen Senin kemarin berlangsung makin tajam. Parlemen Kuwait mempertanyakan kelayakan emir baru untuk memimpin negeri karena sudah sakit-sakitan. Silang pendapat tentang emir baru Syekh Saad al-Abdulla al-Sabah mulai menyentuh masalah prinsip mengenai siapa pengganti yang layak antara dua kubu keluarga al-Sabah. Emir baru Kuwait saat ini berusia 76 tahun dan lumpuh karena sakit. Krisis itu memaksa parlemen menunda sesi sidang sampai waktu yang tidak ditentukan. Dibatalkan pula sidang yang akan membahas rencana senilai 8,5 miliar dolar AS untuk mendongkrak produksi minyak bermitra dengan perusahaan-perusahaan asing. Krisis suksesi makin mendalam ketika pemerintah meminta parlemen menggelar voting Selasa ini untuk memutuskan kemampuan Syek Saad memegang jabatan. Emir baru ini dijadwalkan akan dilantik pada Selasa ini juga. Pemerintah saat ini dapat dikatakan berada dalam kepemimpinan Perdana Menteri Syek Sabah al-Ahmad al-Sabah. Sebagai upaya mendahului voting, Syekh Saad meminta parlemen mengajukan upacara pelantikan Senin kemarin. Namun, ketua parlemen Jassem al-Kharafi menolak permintaan itu. Syekh Saad naik menjadi emir pada 15 Januari menggantikan Emir Syek Jaber yang wafat. Calon pengganti emir seusia urutan setelah Syek Saad adalah Syekh Sabah, yang de facto memimpin Kuwait selama empat tahun ini. "Kami sedang menghadapi krisis kekuasaan," kata analis Ali al-Baghli, mantan menteri perminyakan. "Sekarang terserah parlemen. Parlemen mendapat permintaan pemerintah yang didukung dengan surat keterangan kesehatan bahwa emir tidak layak secara medis. Karena itu, parlemen seharusnya mempertimbangkan hal ini terlebih dulu sebelum emir baru diambil sumpahnya," kata dia. "Sudah pasti, ketidakstabilan ini menciptakan kebingungan di bidang ekonomi dan politik di negeri ini," tambah Baghli. Kebijakan Minyak Untuk mengganti Syekh Saad, dibutuhkan suara dua pertiga dari 50 anggota parlemen. Berdasarkan konstitusi, kabinet juga dapat membentuk tim medis untuk memeriksa kesehatan emir dan memberikan laporannya kepada parlemen. Syekh Sabah memegang kendali pemerintahan harian Kuwait sejak empat tahun lalu karena baik Syek Saad maupun almarhum emir Syek Jaber sudah sakit. Perdana Menteri saat ini mendapat dukungan dari keluarga keemiran, khususnya yang berasal dari klan dia. Syekh Sabah dan almarhum emir berasal dari klan Jaber. Kelompok ini memegang beberapa jabatan menteri utama. Sedangkan, Syekh Saad berasal dari sayap Salem. Anggota klan Salem ini hanya memegang satu jabatan menteri, yakni menteri luar negeri. Kabinet Kuwait pekan lalu langsung menunjuk Syekh Saad sebagai emir untuk menghindari perselisihan di dalam keluarga emir berkuasa. Langkah itu juga untuk meyakinkan kalangan investor mengenai stabilitas politik dalam negeri Kuwait. Setelah Syekh Jaber wafat, pejabat perminyakan Kuwait menyatakan negeri itu tetap akan mempertahankan kebijakan menyangkut minyak. Kegiatan dan proyek-proyek di sektor energi bakal berjalan seperti sedia kala. Tiga konsorsium internasional dipimpin British Petroleum, ExxonMobil dan Chevron saat ini sedang bersaing memperebutkan Proyek Kuwait. Proyek ini menjadi perdebatan sengit selama lebih dari sepuluh tahun. Kuwait memiliki 10 persen dari cadangan minyak dunia. Sebagian anggota parlemen berpengaruh menentang proyek itu. Menurut mereka, perusahaan-perusahaan energi asing seharusnya tidak diperbolehkan terlibat dalam sektor hulu yang sangat menggiurkan itu. Proyek itu bertujuan meningkatkan produksi empat ladang minyak utama menjadi 900.000 barel per hari.(rtr-gn-25) |