| Senin, 23 Januari 2006 | RAGAM |
Gantikan Formalin, IPB Tawarkan ChitosanSETELAH merebak isu formalin yang sangat memukul para produsen/pedagang tahu, ikan, dan mie di semua daerah, termasuk di Jawa Tengah, sejumlah perguruan tinggi menawarkan hasil penelitiannya pengganti formalin. Institut Pertanian Bogor (IPB), misalnya, menawarkan chitosan yang bisa dipergunakan sebagai bahan pengawet makanan pengganti formalin. Bahkan, IPB kini sudah mulai memproduksi bahan itu dengan kapasitas 100-300 kilogram per hari. Chitosan adalah bahan alami yang ditemukan para ilmuwan dari Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Ini merupakan produk turunan dari polimer chitin, yakni produk samping (limbah) dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan rajungan. IPB mulai memproduksi bahan itu dalam skala relatif besar bersama CV Dinar di kawasan nelayan Jl Raya Dadap, Tangerang, Banten. Chitosan nantinya akan dipasarkan dalam bentuk larutan, bukan serbuk. Produksi itu masih bisa ditingkatkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan bahan baku berupa limbah rajungan atau kerang. Proses pembuatan chitosan dilakukan melalui beberapa tahapan. Dimulai dari pengeringan bahan baku mentah chitosan (rajungan), lalu melalui proses penggilingan, penyaringan, deproteinasi, pencucian dan penyaringan, deminarisasi (penghilangan mineral Ca), pencucian, desalinisasi, dan pengeringan. Setelah itu barulah terbentuk produk akhir berupa chitosan. Menteri Kesehatan Siti Fadilah pun menyatakan kesediaannya memberikan legalitas penggunaan bahan itu. Selain chitosan, IPB dan CV Dinar sejak tahun 2003 telah memproduksi olahan rumput laut yang disebut ''karagenan'', bahan alami untuk membentuk gel yang dapat digunakan untuk mengenyalkan bakso dan mie basah. Bahan ini dipandang sangat aman dan dapat dipergunakan untuk menggantikan boraks. Karagenan ini dihasilkan dari rumput laut euchema sp yang dibudidayakan di berbagai perairan Indonesia. Setiap 1 kilogram bakso membutuhkan 0,5-1,5 gram karagenan. Di pasar karagenan seberat itu dijual Rp 750-Rp 900. Dalam industri, bahan ini sering dijadikan bahan campuran kosmetik, obat-obatan, es krim, susu, kue, roti dan berbagai produk makanan.(Silvi-12) |