logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 PANTURA
Line

Makin Tegal Akan Gelar Dramatari Khong Cu

KOTA Tegal dikenal sebagai gudang seniman. Predikat itu kini diperkuat lagi dengan ditunjuknya Majelis Agama Kong Hu Cu Indonesia (Makin) Kota Tegal oleh Majelis Tinggi Agama Kong Hu Cu Indonesia (Matakin) Pusat untuk menggelar dramatari.

Lakon yang akan dibawakan adalah episode berjudul "Khong Cu Telah Bersabda (KCTB)". Meski dramatari ini hanya berdurasi sekitar 15 menit, namun latihan memerlukan waktu sampai tiga bulan lebih.

Lakon itu akan dipentaskan pada perayaan tahun baru Imlek secara nasional, yang akan diadakan di Convention Hall Jakarta 4 Februari mendatang. Perayaan tingkat nasional ini bakal dihadiri orang-orang penting di negara ini.

Untuk menyukseskan pergelaran bergengsi itu, Makin Kota Tegal sejak tiga bulan lalu digembleng latihan, yang secara fisik dan mental amat melelahkan. Kendati latihan dilakukan sepekan dua kali, namun setiap latihan, misalnya, pada Sabtu malam 39 pemainnya harus mandi keringat. Ini karena latihan dimulai pukul 18.00 dan selesai pukul 21.00 lebih.

"Pemerannya memang kebanyakan kalangan pebisnis, maka wajar saja kalau kami kadang jenuh, kesal, kesel dengan porsi latihan yang amat berat. Meski tetap menggembirakan," ujar pemeran utama KCTB, Lie Ing Liong yang populer disapa Gyong-Gyong (Doble Gyong).

Gyong-Gyong yang juga Ketua Makin Tegal, latihan semacam itu memang bukan asing baginya. Sebab, dia memang dikenal sebagai teaterawan dan pernah main di sinetron Jejak Sang Guru arahan sutradara asal Tegal Imam Tantowi.

Kebingungan

Namun, beberapa pemain di antaranya yang juga dikenal sebagai pelaku bisnis kadang harus kebingungan saat disentuh soal sisi dramaturgi, khususnya soal koreografi.

"Soal tarian yang menguras fisik memang lebih banyak diserahkan kepada pelajar. Kami yang sudah berumur hanya melakukan moving kecil-kecilan. Namun, toh sekali latihan sakitnya sampai dua hari. Ini karena latihan bisa dilakukan lima kali," kelakarnya. Belum lagi setelah selesai latihan, sutradara asal Yogya Noor WA biasanya melakukan latihan khusus berupa penghalusan gerak.

Sinopsis KCTB bercerita tentang kekejaman dan kebengisan Yang Ho yang berambisi menguasai Negeri Lu semasa Dinasti Zhou. Negeri ini terletak di jazirah Shandong yang berbatasan dengaan Negara Bagian Qi.

Tanda batasnya adalah gunung Dai Sin. Pemberontakan oleh Yang Ho dapat dipadamkan Raja Muda Lu Zhao Gong bersama Nabi Kong Zi beserta murid-muridnya.

Untuk menyukseskan pergelaran ini, ditunjuk personel dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selain sutradara Noor WA, penata tari dipercayakan kepada Vita Aulia dan penata lampu Fery. Untuk membantu penonton mencerna lakon ini dipersiapkan pula naratornya, yakni Sutikno.

Selain main di Jakarta, daramatari ini juga akan digelar di hadapan warga Tegal yang kini berpencar di berbagai negara seperti dari Amerika, Australia, Cina, Hongkong, Malaysia, Singapura.

Hampir 200 putra terbaik Tegal yang kini berpencar di luar negeri bakal menghadiri reuni 100 tahun Sekolah Tionghoa Hwee Kuan (STHK) Tegal, yang dulu lokasinya di kompleks SMAN 4 Tegal.

Humas Pantia Reuni Gyong Gyong mengatakan reuni akan diadakan 6 Februari 2006. Dari Amerika akan datang 4 orang, Australia empat orang, Cina 102 orang, Hongkong sekitar 60 orang, Malaysia empat orang dan Singapura enam orang.(Nuryanto Aji-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA