| Senin, 23 Januari 2006 | PANTURA |
Sang Proklamator di Mata PelukisBUNG KARNO memang sudah lama wafat, tapi jejak langkah dan semangatnya masih tetap hidup di tengah budaya populer sekarang ini. Lewat goresan di atas kanvas, 300 pelukis Se-Jateng dan DIY Minggu kemarin mengenang jejak Sang Proklamator. Suasana musik bercampur obrolan pengunjung stan makanan cepat saji di Halaman Sri Ratu Mega Center seolah tak digubris para pelukis. Beralas kertas koran, para peserta lomba lukis ''Bung Karno dalam Kenangan'' duduk berjejer sambil menggoreskan cat ke kanvas. Di samping kanvas tergolek gambar Presiden RI pertama yang tengah berorasi sambil mengacungkan tangan kanannya. Seolah ingin menyerap kobaran nasionalisme yang terpancar dalam wajah Sang Proklamator, tangan pelukis berambut gondrong yang memegang kuas terlihat deras menghunjam ke kanvas. Warna merah beberapa kali dioleskan dalam latar belakang Bung Karno hingga terlihat menyala. Ada juga pelukis yang menggambarkan Bung Karno berdasarkan imajinasinya, tak ada gambar atau foto yang ditiru. Bunga Karno digambarkan tengah memeluk dunia, ada juga yang menampilkan wajah saat masih belia. ''Kita memang memberikan kebebasan pada para peserta untuk menggambarkan Bung Karno menurut perspektif mereka,'' tegas salah seorang panitia, Haris Riyadi. Ekspresi Bung Karno ditampilkan dengan sangat variatif para peserta. Selain menggunakan media cat air, cat minyak atau pensil, ada juga pelukis yang menggunakan media cat semprot. Dengan cekatan pelukis yang mengaku dari Salatiga itu menyemprotkan cat ke arah sketsa wajah Bung Karno yang sudah dibuat lebih dulu. Semangat juang Lomba lukis yang diadakan atas prakarsa Keluarga Besar Marhaen (KBM) Pekalongan, dan Forum Pelukis Pantura, kata Haris, adalah yang pertama di Indonesia. Dia berharap lewat lomba itu semangat juang Sang Proklamator bisa terus berkobar. Selain menggelar lomba, panitia juga menggelar lomba mewarnai yang diikuti 70 anak-anak usia 6-12 tahun dengan tema sama. ''Kita juga berharap apresiasi terhadap berbagai fenomena dan tokoh nasional bisa dibudayakan para seniman terutama pelukis. Beberapa pengunjung yang menonton lomba tersebut menyambut positif kegiatan itu. ''Wah kalau acara-acara seperti ini kalau bisa dipersering dan dalam bentuk seni yang lain, sehingga ada tontonan alternatif bagi masyarakat yang lebih mendidik. Jangan terus-terusan musik,'' ujar Ahmad (40), warga Kedungwuni sambil mencermati pelukis yang tengah menyelesaikan lukisannya. (Muhammad Burhan-19) |