logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 PANTURA
Line

Dikelola Masyarakat

Ekowisata Petungkriyono Resmi Dibuka

KAJEN- Objek wisata di Kabupaten Pekalongan bertambah satu dengan peresmian ekowisata alam di Kecamatan Petungkriyono, Sabtu lalu. Objek yang nantinya dikelola oleh masyarakat tersebut akan menjadikan keindahan alam sebagai suguhan utama.

Bupati Pekalongan H Amat Antono mengatakan, pembukaan ekowisata adalah bentuk kebersamaan antara masyarakat dan pemerintah.

Ekowisata juga merupakan bentuk upaya serius dari masyarakat untuk melestarikan kekayaan alam yang ada di Petungkriyono.

Di Petung, kata Bupati, masih banyak potensi alam yang sudah tidak lagi bisa ditemukan di tempat lain.

''Di sini masih ada macam tutul, macan kumbang, elang kawa, owa, dan surili. Mendengar gemericik air terjun di sini laksana mendengarkan suara Tuhan yang jarang kita temui di tempat lain,'' urainya.

Petungkriyono, kata dia, bisa dikatakan sebagai jantung dan paru-paru Jawa Tengah. Sebab, Petung termasuk sedikit dari daerah yang kawasan hutannya masih belum rusak.

Ketika Komuniti Forestri Kabupaten Pekalongan mengusulkan agar ada upaya untuk melestarikan kekayaan alam sekaligus menyejahterakan masyarakat, Bupati mengaku mendukung sepenuhnya, sehingga lahirlah ide pembukaan ekowisata tersebut.

Ekowisata di Petungkriyono, tutur dia, adalah wisata yang berbasis masyarakat dan diharapkan bisa menyejahterakan masyarakat di sekitar hutan.

''Jadi, hutan hanya bisa dijaga jika masyarakat di sekitar disejahterakan lebih dahulu,'' tandasnya.

Khas Desa

Peresmian ekowisata dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional dari berbagai daerah di Kabupaten Pekalongan, seperti kuntulan dan jaran kepang.

Selain itu, juga digelar lomba lintas wisata yang diikuti oleh kelompok pecinta alam dari berbagai daerah yang dimenangi oleh peserta dari Temanggung.

Koordinator Komuniti Forestri, Thomas Hariadi, yang mendampingi masyarakat dalam pengelolaan ekowisata menegaskan selain menyuguhkan berbagai pesona alam.

Diantaranya lanskap pegunungan dan lembah Sokokembang yang menawan, air terjun, keasrian hutan serta aneka satwa langka, wisatawan juga akan disuguhi pertunjukan kesenian, makanan serta gaya hidup pedesaan khas Petungkriyono.

Guna melengkapi sarana, telah dibangun pendapa untuk pertunjukan kesenian, gardu pandang berketinggian 1.150 m dpl, camping ground, jungle house, dan home stay dengan nuansa kehidupan desa.(G16-52s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA