| Senin, 23 Januari 2006 | PANTURA |
Objek Wisata Slamaran Menarik bagi InvestorMESKI belum lama ini ombak Pantai Slamaran menghanyutkan empat anak -tiga di antaranya meninggal dan satu orang hilang- bukan berarti pantai tersebut menakutkan. Setiap Minggu dan hari libur, pengunjung pantai tetap ramai. Kedatangan anak-anak itu tidak harus mandi air laut, tetapi ada yang sekadar bermain pasir dan rutin olahraga bela diri. Padahal, objek wisata itu belum banyak mendapat perhatian dari Pemkot. Namun kenyataannya, banyak warga yang datang. Para pengunjung yang masuk tidak mesti membeli karcis. Mereka bisa masuk melalui jalur TPA Degayu, yang bebas dari petugas retribusi. Bahkan, petugas pun tidak setiap saat menunggu di lokasi, sehingga jangan heran objek wisata itu kemasukan pengunjung ilegal. Sebagai contoh, delapan anak yang terseret ombak beberapa hari lalu diketahui tidak membeli retribusi masuk. Beberapa tahun lalu, di tempat tersebut sebenarnya sudah dibangun tempat istirahat. Namun, kini tidak kelihatan karena hancur ditelan ombak. Banyaknya pengunjung yang masuk tanpa membayar retribusi, menyebabkan pemasukan ke Pemkot pun sangat kecil. Menurut Ketua DPRD Salahudin STP, pemasukan yang dianggarkan dari objek wisata tersebut pada RAPBD tahun 2006 hanya Rp 10 juta. Itu angka yang sangat kecil bagi pemasukan Pemkot. ''Itu menandakan banyak pengunjung yang masuk tanpa karcis,'' kata Salahudin. Meski demikian, menurut Wakil Wali Kota Abu Almafachir, Pantai Slamaran tetap menjadi daya tarik beberapa investor dari ibu kota untuk mengembangkannya. Beberapa investor dari orang Pekalongan (Opek) yang sukses di Jakarta tertarik dengan pantai itu. Cukup Luas Mengapa? Menurut Ketua PCNU Kota Pekalongan, hal itu menarik investor, karena untuk mengembangkan wisata pantai tersebut masih tersedia tanah cukup luas dan harganya masih rendah. ''Tidak kurang dari 30 ha yang masih bisa dibebaskan,'' katanya, dalam rapat di Pemkot untuk menindaklanjuti pertemuan dengan 100 pengusaha sukses di Jakarta. Mafachir menuturkan, dengan tanah seluas itu maka investor bisa lebih leluasa mengembangkan wisata seperti yang diinginkan. Beberapa investor sudah mengontak Pemkot untuk bersedia mengantarkan ke tempat wisata Slamaran. ''Kalau mereka cocok, dimungkinkan segera menanam modal ke Pekalongan untuk mengembangkan tempat wisata itu,'' katanya. Menurut Kabag perekonomian Ir Erri Getarawan, ketertarikan pengusaha Jakarta untuk mengembangkan Pantai Slamaran memang tidak dipungkiri. Namun sayang, Pemkot belum memiliki detail masterplannya. Karena itu, Pemkot tahun ini segera membuatnya. Dalam RABD, DPRD sudah menyetujui pembuatan detail masterplan. Hanya, tambah Salahudin, ada kendala yang akan ditemui para investor untuk mengembangkan tempat wisata tersebut. Yakni, belum adanya jalan yang cukup lebar menuju ke pantai. ''Ini harus dipikirkan sejak dini, agar masyarakat yang sangat berharap tempat rekreasi yang nyaman bagi anak-anak dan keluarganya bisa diwujudkan dalam waktu yang cepat.'' (Trias Purwadi-52s) |