| Senin, 23 Januari 2006 | PANTURA |
LP2NU Nilai Impor Beras Tambah Penderitaan PetaniBATANG- Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) Kabupaten Batang, menilai kebijakan impor beras akan menambah penderitaan petani. Sebab, petani saat ini membutuhkan tambahan pendapatan untuk menutup biaya produksi yang meningkat dan biaya hidup yang kian tinggi. ''Di saat yang sama, yang diterima bukan berkah, melainkan kenyataan pahit yaitu harga jual gabah tidak naik akibat impor beras. Mereka kesulitan menutup biaya produksi,'' ujar Ketua LP2NU, Sodikin SPd. Dia menuturkan, lembaganya menilai kebijakan impor beras mengabaikan rakyat kecil yang mayoritas hidup dari sektor pertanian. LP2NU menilai kebijakan impor beras melibatkan broker importir yang mencari keuntungan dari perdagangan internasional. ''Kami menilai kebijakan impor beras akan semakin menaikkan angka pengangguran di desa-desa pinggiran kota, yang merupakan basis ekonomi pertanian. Karena itu, angka urbanisasi akan semakin meningkat, pemuda petani banyak yang lari mencari penghidupan di kota besar. Akibatnya, akan menyulitkan pemerataan lapangan kerja di daerah,'' paparnya. Semakin Berat Beban ekonomi perkotaan pun akan kian berat, sementara lapangan pekerjaan tidak bertambah. Bahkan, menurun dengan banyaknya perusahaan yang melakukan rasionalisasi. Karena itu, LP2NU berharap aspirasi tersebut hendaknya bisa ditindaklanjuti para pengambil kebijakan di pemerintahan pusat. ''Kepada Pemda Batang untuk mengambil langkah-langkah membantu penderitaan petani dan mengurangi implikasi ekonomi yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut di wilayah,'' ujar Sodikin. Pada bagian lain, Kabag Perekonomian Gigig Sayogo SH MHum menyatakan untuk wilayah Kabupaten Batang, sekarang ini stok beras masih mencukupi. Dengan demikian, tidak mendatangkan beras impor.(ar-52s) |