| Senin, 23 Januari 2006 | PANTURA |
Tahu Batang, AlamiKEPERCAYAAN masyarakat untuk tidak takut mengonsumsi tahu, perlu terus digalakkan pemerintah. Mengingat akibat isu penggunaan formalin, omzet sejumlah perajin tahu turun. Bahkan, ada yang tidak produksi karena tidak laku. Hal itu perlu disikapi serius. Sebab, pemantauan Komisi B (Bidang Kesejahteraan Masyarakat) DPRD Batang bersama Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Dinkessos) dan Kantor Perindustrian dan Perdagangan (Perindagkop) tidak menemukan pembuatan tahu yang menggunakan formalin. "Saya yakinkan kepada masyarakat, tahu buatan Batang tidak ada yang menggunakan formalin atau bahan pengawet lain. Semua benar-benar alami. kami sudah meninjau langsung perajin tahu semua dibuat secara alami," ujar Hj Rutiyah, anggota Komisi B dari Fraksi Demokrat. Meskipun dari hasil kunjungan tidak menemukan industri kecil yang menggunakan bahan pengawet, ada setumpuk catatan untuk peningkatan bagi industri berskala usaha kecil menengah (UKM) itu. Pertama, dia mendesak kepada instansi terkait, baik Kantor Perindag maupun Dinkessos untuk melakukan pemantauan kepada apotek atau toko obat yang menjual formalin. Langkah tersebut ditempuh sebagai usaha untuk mengendalikan penjualan formalin dan bahan pengawet agar tidak mudah diperjualbelikan di pasaran. "Kemudian, mulai sekarang sudah saatnya melakukan pendataan kepada perajin UKM. Ini untuk mengevaluasi sekaligus dalam rangka pembinaan. Mereka butuh binaan dalam rangka meningkatkan mutu ataupun pendapatan," ujar dia. Kepada Dinkessos diharapkan lebih meningkatkan pembinaan kepada perajin. Sebab, masih banyak ditemui perajin UKM belum memperhatikan kesehatan. "Saya menjumpai di rumah salah satu perajin tahu, yang dapurnya berdampingan dengan kandang kambing. Ini seharusnya tidak terjadi, kalau Dinkessos ataupun Kantor Perindag sering melakukan pembinaan dan peninjauan lokasi," tutur Hj Rutiyah. Sebaliknya, dia memuji model pembuatan tahu milik Turyanto di Desa Sokoyoso, Kecamatan Blado, yang layak dijadikan percontohan. Sebab, tepat dalam pengelompokan proses tahapan pembuatan tahu. "Saya sarankan kepada Kantor Perindag, barangkali bisa dijadikan percontohan. Meskipun di pedesaan, dia mempunyai inovasi dalam proses pembuatan tahu yang sehat lingkungan. Misalnya untuk pengapian kedelai, sebagai jalan keluarnya asap dilewatkann cerobong asap yang tinggi dan besar, sehingga dalam ruangan dapur tidak sumpek."(Arif Suryoto-52s) |