logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 PANTURA
Line

Bantaran Sungai Ketiwon Dipasang Karung Pasir

TEGAL- Puluhan warga Kelurahan Slerok yang tinggal di dekat Jembatan Teksin dibantu anggota TNI dan polisi serta Dinas PU, sejak Sabtu (21/1) bahu-membahu memasang karung pasir di bantaran Sungai Ketiwon.

Upaya itu untuk mencegah penggerusan tanggul akibat meningkatnya debit sungai.

Karung pasir 5.000 buah itu ditumpuk di bantaran sepanjang 135 meter, sebelah selatan jembatan. Di tepi bantaran dipasang bambu 572 batang secara berjejer. Bambu tersebut untuk mengamankan bantaran di bawah tumpukan karung pasir agar tidak terkikis.

Plh Kepala DPU Soeripto ST mengatakan, debit Sungai Ketiwon dalam beberapa pekan terakhir meningkat hingga mencapai tanggul.

Berdasar pantauan, debit sungai cukup tinggi terjadi Senin (16/1) malam. Ketinggian air saat itu diperkirakan mencapai 15 meter dari dasar sungai.

Di Jembatan Langon dan Teksin, permukaan air nyaris mendekati badan jembatan. Debit air juga meningkat Sabtu (21/1), meski tidak sebesar sebelumnya.

Dia khawatir meningkatnya debit air akan menggerus tanggul. Akibatnya, badan tanggul sepanjang sungai semakin menyempit.

"Kalau tidak dicegah bisa menggerus pekarangan warga di tepi sungai," kata Soeripno.

Perbaikan bantaran diperkirakan menelan dana Rp 50 juta, yang diambil dari pos tak terduga APBD. Menurut rencana, pekerjaan selesai dalam waktu satu minggu.

Hingga kemarin, kegiatan pemasangan karung pasir masih berlanjut. Sejumlah tenaga menancapkan batang bambu dengan alat berat. Karung pasir dan bambu dipasang dengan kedalaman sekitar dua meter dan lebar 1,5 meter.

Dia mengatakan, pemasangan karung pasir hanya bersifat sementara, untuk mencegah penggerusan lebih parah. Adapun pengamanan bantaran secara permanen merupakan wewenang Kantor PSDA (Pengelolaan Sumber Daya Air) Tegal dan PBPP (Pengendali Banjir dan Pengaman Pantai) Jratun Seluna Jawa Tengah.

"Kami bekerja sama PBPP dan PSDA dalam memperbaiki bantaran," kata dia.

Kritis

Pembantu Pengawas Lapangan PBPP Jateng Rofik mengakui, tanggul sungai di bawah Jembatan Teksin sudah kritis. Sementara, sebagian besar bronjong di bawah bantaran telah longsor. Jika tidak segera diatasi, dikhawatirkan tanggul sepanjang sungai akan semakin melebar akibat tergerus.

Dia menyatakan pihaknya mendapati empat titik sepanjang Sungai Ketiwon yang mengalami kondisi kritis. Antara lain, di selatan Jembatan Langon sepanjang 250 meter. Di sebelah selatan jembatan, bronjong sepanjang 25 meter longsor dari tebing sungai.

Di selatan Jembatan Teksin, bantaran sungai sepanjang 135 meter kini mulai ambles. Bantaran sungai di selatan jembatan pantura juga mulai kritis. "Kalau tidak segera ditangani, penggerusan semakin melebar," ujarnya.

Ketua Komisi C (bidang pembangunan) DPRD Agil Riyanto Darmowiyoto mengatakan, alat untuk menancapkan batang bambu di bantaran Sungai Teksin kurang memadai. "Kalau hanya dengan pemukul sederhana, kegiatan bisa molor lebih dari seminggu," urai dia, saat ditemui ketika mengunjungi bantaran Sungai Ketiwon, Sabtu (21/1).

Dia khawatir luapan air Sungai Ketiwon terjadi lagi, mengingat musim penghujan masih berlangsung. Karena itu, dia meminta Dinas PU mempercepat pemasangan karung pasir. (H16-52s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA