| Senin, 23 Januari 2006 | PANTURA |
200 Rumah Terancam Longsor
KAJEN- paling sedikit 200 rumah di Dusun Leles, Desa Windurojo, Kesesi, Kabupaten Pekalongan, terancam longsor. Sebab, lapisan tanah di dusun tersebut sangat labil dan sering bergerak. Akibat hujan deras yang mengguyur beberapa hari lalu, 20 rumah di sana rusak tertimpa longsor. Delapan rumah rusak berat, sedangkan 12 lainnya retak-retak. Dua rumah terpaksa dirobohkan oleh warga, karena kondisinya sudah sangat membahayakan. "Banyak bagian belakang rumah yang ambles dengan jarak tiga-10 meter dari bagian utama akibat longsor," ujar Rasmani (35), warga Leles. Petani yang nyambi jadi pembuat reyeng (tempat untuk ikan asin) itu mengaku rumahnya rusak parah akibat longsor. Selain fondasi bagian belakang ambrol, dapurnya juga ambles dan terpisah hingga tiga meter dari bagian utama. "Saya ya takut, tetapi mau pindah tak punya uang," tandasnya Warga, kata dia, saat ini hanya bisa menguatkan fondasi dengan membuat patok-patok di sekitar bagian rumah yang telah ambrol. Patok-patok dari kayu dan batu tersebut dibuat untuk menyangga fondasi yang sebagian besar telah ambrol. Namun, patok yang dibuat dengan alat seadanya tersebut tak akan bisa berbuat banyak begitu hujan deras turun. "Tanahe gerak terus Mas, nek udan mesti ambrol maneh (Tanahnya gerak terus Mas, kalau hujan pasti ambrol lagi)," tegas Slamet (57), warga lain. Sudah lama Lapisan tanah di Leles yang berpenghuni 200 keluarga lebih itu, kata dia, sejak lama mengalami retak-retak. Hampir seluruh lantai rumah milik warga mengalami retak-retak karena tanahnya bergerak. Saat hujan longsor melanda beberapa waktu lalu, retakan di lantai ataupun dinding bertambah parah. Kondisi itu diperparah dengan putusnya Jembatan Kali Tawing di Desa Brondong, Kesesi. Praktis, Dusun Leles seperti halnya tiga dusun lainnya di Desa Windurojo yaitu Serang, Karangmoncol, dan Kutowangi, menjadi terisolasi dan sulit berhubungan dengan desa lain. Sebelum jembatan itu putus, warga yang akan ke kota kecamatan dan desa lainnya bisa keluar dari dusun dengan angkutan berupa doplak (mobil bak terbuka) atau truk. Namun setelah jembatan putus, jalan menuju ke dusun itu menjadi semakin sulit. Jalan yang bisa dilalui untuk sampai ke sana adalah melewati Desa Lambur di Kecamatan Kandangserang. Pada musim hujan seperti ini, melewati jalur itu tidaklah mudah. Sebab selain sempit, jalanan berbatuan itu juga sangat licin dan rawan longsor. "Jika memaksakan menyeberang lewat jembatan yang ambruk, harus jalan kaki dan setengah hari baru sampai," ujar Yarto (39), sopir truk yang biasa lewat jalur tersebut. Kepala Bappeda Ir Susiyanto MM yang dimintai konfirmasi tentang masalah itu menandaskan usulan relokasi di beberapa daerah yang kondisinya labil tengah dikaji oleh Pemkab. Namun, hingga saat ini kondisinya belum teramat mendesak untuk dilakukan langkah itu. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi longsor susulan dan memakan korban jiwa, pihaknya akan memperkuat kondisi tanah dan lingkungan di desa yang rawan tersebut. "Kami akan memperkuat tebing-tebing atau tanah yang labil dan bisa mengakibatkan longsor," tuturnya.(G16-52s) |