| Senin, 23 Januari 2006 | MURIA |
Bertahan Hidup dari Sejumput GabahMASIH dengan kedua kaki yang terendam lumpur sawah, hingga hampir menyentuh ujung kain lusuh yang dipakainya, Mbah Kartini (70), siang itu berusaha mencapai tepian pematang. Setelah beberapa kali terseok, akibat kubangan lumpur sisa banjir yang cukup dalam, ujung sawah yang baru saja dipanen itu berhasil ditapakinya. Di tempat itu, saat lalu lalang para pengedos (buruh pemanen dan pengangkut) beranjak di hadapannya, mulai dibukanya karung plastik yang telah digendongnya sedari tadi. Isinya, hanya beberapa ikat tanaman padi dengan bulir kuning di tangkainya. Sebagian di antaranya masih bercampur dengan lumpur. ''Saya mengais sisa panen dari sawah milik orang lain,'' ujar dia. Sebenarnya, dahulu dia pun sempat bermimpi -seperti tetangganya di Desa Terang Mas, Kecamatan Undaan, Kudus- untuk menggarap sendiri sawah miliknya. Bersama dengan suaminya yang buruh penggarap, Sardi (75), beberapa tahun berselang, impian itu nyaris terwujud. ''Kami sempat mengumpulkan uang untuk membeli sawah barang sepetak.'' Namun, kebutuhan hidup -dengan beban anak empat orang ketika itu- ternyata tak membuatnya mampu membeli barang sejengkal sawah. Apalagi, kini sang suami sudah lumpuh dan tak dapat membantunya. Meski, sekadar membuat dapur rumah mengepul. ''Terpaksa saya harus bertahan hidup seperti ini,'' kata nenek yang telah dikaruniai lima cucu itu. Meski beberapa anaknya telah ''mentas'' dan tak lagi menggantungkan hidup padanya, tak lantas membuatnya minta dikasihani. Dengan cara mengumpulkan sejumput demi sejemput gabah sisa panen sawah tetangganya, dirinya mengaku masih dapat bertahan. ''Selain saya, masih ada belasan rekan seusia saya yang menjalani hidup dengan cara seperti ini,'' katanya. Bicara soal hasil ''panennya'', dia mengaku tak cukup banyak. Jika sedang ada panen raya, setiap hari dirinya bisa memperoleh 10 kg gabah/hari. Tetapi untuk saat sekarang ini, saat sejumlah sawah di daerahnya terendam banjir, hanya tiga kilogram gabah yang masuk ke kantong plastiknya. ''Terkadang juga hanya dapat satu kilogram, setelah seharian nyawah.'' Bulir-bulir gabah yang hanya didapat dari sawah-sawah di sekitar rumahnya itu, akibat tenaga tua membatasi ruang geraknya, tak lantas dijualnya. Namun, kemudian diolah untuk dikonsumsi sendiri. Jika tidak sedang musim panen, dirinya berusaha apa saja untuk sekadar bertahan hidup. Misalnya menjadi buruh tanam di beberapa tempat. (Anton Wahyu Hartono-50s) |