| Senin, 23 Januari 2006 | MURIA |
Geliat Dunia Teater dari Ruang KelasRENA, gadis belasan tahun yang terseret dalam pergaulan bebas. Minuman keras dan obat-obatan terlarang adalah konsumsi kesehariannya, bersama Riko, cowok tanggung yang ''sehati'' dengannya. Wajah Rena yang cantik, tersembunyi di balik penampilannya yang acak-acakan. Omongannya ceplas-ceplos dan isinya kadang ''melampaui'' adat keluarganya. Yeni, kakak kandung Rena, yang setiap saat memberi nasihat, tak digubris adiknya yang jalang itu. Sambil mengacung-acungkan botol dengan celana jins berantai besi, Rena menyebut kakaknya itu sebagai kurang pergaulan (kuper). Kondisi demikian membuat sang ibu kedua gadis itu sakit-sakitan. Ketika melihat polah tingkah Rena, daya tahan tubuh dan psikis sang ibu makin lemah dan bertambah lemah. Hingga pada titik klimaksnya, sang ibu yang mengenakan daster lusuh itu meregang nyawa. Taubat Rena atas ketuliannya mendengar nasihat ibundanya terlambat. Jeritan memekakkan telinga pun memenuhi ruangan yang diterangi temaram lampu itu. Drama kehidupan keluarga tersebut tersaji dalam akting lakon Remuk yang diperagakan pegiat seni Teater Epos SMA Negeri I Pecangaan Jepara, Sabtu (21/1) malam di ruang kelas sekolah setempat. Tepuk tangan riuh menggema dari puluhan pelajar yang memberikan apresiasi peran itu. Sebelumnya dua peran berkarakter juga tersaji, masing-masing dalam lakon Eksekusi yang mengusung proses peradilan atas kasus seseorang yang koma karena mengonsumsi produk berformalin. Dilanjutkan dengan Border Invitation yang menyibak liku-liku cinta segitiga dengan peran cowok ganteng yang bimbang dengan perasaan cintanya kepada cewek gaul yang cantik di satu sisi dan pada cewek culun yang berkesan idiot namun tulus. Akting Panggung Tiga tema peran akting panggung itu sama-sama memukau, meski tak lama mereka mempersiapkannya. ''Mereka memerankan hasil pendidikan dan latihan (diklat) teater selama sehari di sekolah yang rutin kami selenggarakan sekali dalam setahun,'' kata Ardiana Sari Eka Putri, pegiat Teater Epos yang pernah menerima penghargaan sebagai pemeran akting terbaik pelajar SMA/SMK/MA se-Jepara pertengahan 2005 lalu itu. Dalam diklat itu juga diluncurkan buku kumpulan puisi karya pelajar-pelajar baru yang mereka nilai nyastra banget seperti ditulis Ulfa dalam penggalan bait puisi berjudul Sahabat berikut ini. ''Sekoak merica pun kalah denganmu//seseram dan setinggi kastil-kastil tua//tak akan membuatmu takut//sinar matahari akan tertunduk melihatmu//kerasnya batu es di kutub utara akan cair tersentuh//oleh tanganmu''. Asyari Muhammad, pelatih diklat teater yang singgah dari satu sekolah ke sekolah lain di Jepara mengatakan, geliat teater di kalangan pelajar sudah muncul cukup lama. Namun kalau sampai ke ranah perfilman baru terlihat pada 2002. Film berjudul Freedom -mengusung tema perjuangan meraih kemerdekaan- yang disutradarai Rahmat Budiarjo dengan penulis naskah Nur Huda Taufik adalah perintis dari geliat teater ruang kelas yang digarap oleh Sanggar Komunitas Perfilman Jepara (KPJ). Setahun kemudian muncul ''Persekutuan WC'' dan film dengan tema Narkoba yang digarap oleh Masudi Dec. Tahun berikutnya tiga film meluncur, yakni Oksigen yang bertemakan lingkungan, Imitasi tentang kisah percintaan, dan Lier tentang kedustaan. ''Ada banyak potensi sebenarnya dari kalangan pelajar, namun pada saat yang sama banyak juga kendala yang menyebabkan potensi itu terhenti. Sampai kini belum ada production house di Jepara, '' paparnya. (Muhammadun Sanomae-54n) |