logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 MURIA
Line

''Kalah Menang Tak Masalah, yang Penting Gembira''

NAMANYA juga anak-anak. Tanpa disadari tingkah lakunya membuat geli bahkan jengkel orang tua ataupun orang lain yang memandangnya. Gelak tawa pun membahana ketika bocah berusia di bawah lima tahun (balita) itu menampilkan kelucuannya. Para orang tua menghendaki anaknya merangkak dengan cepat hingga mencapai garis finis.

Namun keinginan orang tua itu terkadang tidak dituruti sang anak. Bahkan buah hati itu terbengong-bengong atau bahkan sibuk bermain dengan anak lainnya.

''Lho kok malah bermain sendiri. Cepat merangkak ke sini,'' pinta salah satu orang tua kepada anaknya.

Pemandangan seperti itu terlihat dalam lomba merangkak bagi balita di pelataran salah satu pusat perbelanjaan di Blora, kemarin. Ratusan balita mengikuti lomba yang digelar dalam rangka hari ulang tahun supermarket tersebut.

Berbagai cara di tempuh orang tua yang mengikutsertakan anaknya dalam lomba itu agar anaknya menjadi juara. Di antaranya dengan membagi tugas antara suami dan istri. Suami melepas keberangkatan anak di garis start, sedangkan si istri menunggu sang anak di garis finis. Berbagai aba-aba, teriakan, dan benda mainan pun diperlihatkan agar anak tersebut cepat merangkak ke garis finis.

''Putri, ibu di sini. Ayo cepat kemari,'' ujar sang ibu kepada anaknya yang mengikuti lomba sembari memperlihatkan boneka kesayangan sang anak.

Namun ternyata aba-aba tersebut ditanggapi dingin. Si putri malah berhenti di tengah jalan dan terlihat kebingungan. Bisa jadi lantaran suasana lomba begitu bising dengan teriakan sehingga membuat bocah itu menangis. ''Tidak apa-apa,'' ujar sang ibu sembari mengangkat si putri dari tengah arena lomba.

Namun tak sedikit pula balita yang dengan mudah menggapai garis finis. Ternyata, beberapa orang tua mengaku tanpa melatih sang anak bergerak cepat ketika merangkak.

Seperti yang dikemukakan suami istri, Arif-Yuni. Keluarga muda yang baru dikarunia satu anak itu mengatakan, sang anak akan merangkak cepat ketika melihat orang tuanya di depan mata. Berbeda dari orang tua lainnya dalam lomba itu yang membagi tugas. Menurut Arif, konsentrasi anak akan pecah ketika melihat ibu di depannya sedangkan sang bapak di belakang. ''Kami berdua berdiri di garis finis. Sementara itu yang melepas anak saya di garis start adalah neneknya,'' ujar warga Jl Jenderal Sudirman Blora itu.

Ternyata resep tersebut berhasil. Meski tidak menjadi juara, Arif dan Yuni lega karena anaknya bisa mencapai garis finis. ''Tidak apa-apa kalah, yang penting anak kami gembira,'' tandasnya. (Abdul Muiz-61n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA