logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 MURIA
Line

Wasit yang Sukses Cetak Lifter Tangguh

NASIB seseorang ibarat arah mata angin, yang sulit ditebak. Apa yang dikerjakan hari ini belum tentu menjadi pegangan hidup pada waktu yang akan datang. Hal itu pula yang terjadi pada diri Muridno.

Perjalanan nasibnya mengantarkan dia menjadi sosok pelatih olahraga angkat besi dan angkat berat yang berhasil. Bukan hanya di lingkup Blora dan Jawa Tengah, namun prestasi yang dia torehkan lewat anak asuhnya sudah sering mengharumkan nama Jateng di pentas nasional. Tak heran kalau Blora menjadi gudangnya lifter andal.

Padahal, Muridno sendiri bukanlah seorang atlet angkat besi (lifter) yang hebat. Dia pun mengaku tak menjadi lifter yang baik. Namun, dia bisa melakukan hampir semua cabang olahraga.

Dia berlatar belakang pendidikan keguruan yang mengambil Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). ''Saya suka olahraga, meski tak bagus benar, hampir semua cabang bisa saya mainkan,'' tandas pria kelahiran Rembang 21 Oktober 1959 itu.

Suami dari Sumiyati ini justru mengawali kariernya sebagai atlet dan wasit sepak bola. Dia mempunyai lisensi sebagai wasit sepak bola III C. Namun perjalanan nasib membuatnya harus berkecimpung sebagai pelatih angkat besi. Berkat keuletannya, cabang tersebut pun menjadi pendulang emas bagi kontingen Blora di ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jateng.

Prestasi terakhir yang diukir angkat besi adalah menjadi juara umum angkat besi di ajang Porda, September lalu. Saat itu angkat besi meraih 21 medali, yakni enam emas, sembilan perak, dan enam perunggu.

Profesinya sebagai guru PNS membawa dia pindah dari Rembang ke Blora pada 1989. Saat itu dia menjadi guru di sebuah SMP di Blora. Kemudian pada 1990 dia baru berkecimpung di olahraga angkat besi.

Hal itu diawali dengan keinginan Jateng membangun olahraga angkat besi khususnya untuk putri. Kebetulan lifter putri di Jateng saat itu belum ada. Kebetulan, hal itu didukung oleh Sukardi, Bupati Blora saat itu.

Selanjutnya, Pemkab kemudian mencari orang yang bisa dicetak menjadi pelatih angkat besi atau orang-orang yang bisa berkecimpung dalam olahraga tersebut. Kemudian dipilihlah lima orang wakil dari Blora, yakni dua orang guru, salah satunya adalah Muridno, dari unsur Pemkab, dan dari unsur polisi.

Kelima orang tersebut kemudian dikirim ke Jakarta untuk mengikuti kursus pelatih dan perwasitan angkat besi untuk tahap pertama. Setelah lulus kursus, Muridno kembali ke Blora dengan membawa beban berat membangun cabang angkat besi. Padahal saat itu angkat besi adalah olahraga yang tidak populer dan cenderung dipandang sebelah mata.

Membangun sesuatu yang benar-benar dari nol, membuat dia tak bisa lebih banyak berharap. Untuk itu, dia pun mulai melatih dengan serius.

Tiga tahun setelah itu, usaha kerasnya membuahkan hasil. Pada 1993, Blora mulai menorehkan prestasi fenomenal. Selain menjadi juara di Jateng, lifter Blora juga menjadi juara di PON. ''Itu prestasi pertama di ajang nasional yang menjadi tonggak berkembangnya angkat besi di Blora,'' ujar bapak dari Radna Andi Wibowo dan Radna Tulus Wibisono itu.

Sejak saat itulah prestasi angkat besi Blora terus meningkat dan diperhitungkan. Pada setiap ajang angkat besi, lifter Blora selalu meraih prestasi yang memuaskan hingga sekarang. (Abdul Muiz-54n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA