logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 MURIA
Line

Mengais Rezeki, Rela Tidur di Gubuk

SIAPA yang menyangka Jl Sudarman Blora kini menjadi tempat berkumpul puluhan pedagang bunga dari berbagai daerah. Padahal, pada awal 2005 lalu, jalan yang menuju kawasan wisata kolam renang Tirtonadi itu masih sepi. Namun sejak pertengahan tahun lalu, satu per satu pedagang bunga beserta aksesorisnya mulai terlihat.

Mereka yang sebagian besar berasal dari luar Blora itu membangun gubuk-gubuk kecil di pinggir jalan. Setiap hari, kios tanaman hias menambah keindahan jalan pinggir kota yang rindang itu. Pada hari libur, bisa dipastikan kios-kios itu diserbu pengunjung yang rata-rata perempuan.

Beraneka ragam keperluan mereka. Dari sekadar membeli bunga sampai diskusi tentang perawatan tanaman. Ada juga yang datang untuk membeli aksesoris dan perlengkapan menanam bunga seperti pot dan pupuk. Ada juga yang sekadar melihat-lihat tanaman ketika pulang dari jalan-jalan pagi.

Sebagian besar pedagang itu berasal dari Tawangmangu, Karanganyar. Yang unik, sekitar sepuluh kios bunga di pinggir jalan itu adalah milik beberapa warga Desa Ledoksari, Tawangmangu.

Seperti yang diceritakan Sumardi (35), salah seorang pedagang. Bapak dua anak itu menuturkan, sebelum berjualan di Blora, dia berjualan tanaman hias di Gresik, Jatim. Kondisi tersebut hanya bertahan beberapa bulan. Sebab, pasaran tanaman hias di Gresik mulai sepi. Dia pun memutuskan untuk pindah. ''Di mana yang ramai dan menguntungkan, di situlah kami berada,'' ujarnya.

Dia mengaku sudah berkeliling di hampir seluruh kota di Jawa. Bahkan sempat menjelajah ke luar pulau seperti Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Profesi yang dijalaninya sejak kecil itu tentu saja mengharuskan dirinya jauh dari keluarga. Dia mengaku jarang pulang, paling cepat 2-3 bulan baru menginjakkan kaki di kampung halamannya.

Butuh Perawatan

Sumardi mengatakan, berjualan bunga seperti itu butuh kesabaran. Sebab, bunga-bunga yang dipasok dari Malang, Jatim itu membutuhkan perawatan. Meski hasilnya yang didapat tidak seberapa, profesi itu tetap menjadi pilihannya karena baginya memang tidak ada pekerjaan lain.

Ketika ditanya penghasilannya, dia enggan memberikan jawaban. Dia hanya menceritakan bunga satu tangkai dia jual paling rendah Rp 2.000. Ada juga yang harganya sampai puluhan ribu.

Hal yang sama juga diungkapkan Kadiman (40), pedagang lainnya. Dia menuturkan, dari modal Rp 1 juta, keuntungan yang diperoleh hanya Rp 100.000. Itu pun harus menunggu sekitar 15 hari atau sampai dagangannya habis. Bapak dua anak yang menjadi penjual bunga hias sejak 1972 itu juga mengatakan hasil yang didapat sangat kecil.

Bahkan karena minimnya penghasilan itu, mereka tak bisa membayar sewa kios. ''Makanya kami tidur di gubuk ini,'' ungkapnya.

Meski demikian, kecintaannya dengan profesi itu tak membuatnya mengeluh. Bahkan setelah sebulan membuat kios di Blora, dia mengajak serta istrinya, begitu juga dengan Sumardi. Setiap hari mereka saling membantu melayani pembeli. Dengan jalan seperti itu, hasil yang didapat bisa sedikit ditabung untuk ongkos pulang dan membiayai anaknya yang masih sekolah.

Menurut Kadiman, hampir seluruh warga di desanya menjadi penjual bunga hias. Penjual bunga yang memiliki sawah di kampung halamannya, ketika menjelang musim tanam dan panen, mereka pulang. Namun karena tak memiliki sawah, dia tetap berada di gubuk sembari mengais rezeki. (Abdul Muiz-61n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA