logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 MURIA
Line

Selektif Meniru Mode

Oleh: HN Ramadhan - Siswa SMA 1 Kudus

BANYAK kita temui remaja yang tidak tahu betul apa arti kata gaul. Tak sedikit pula dari mereka yang salah dalam mengartikannya. Mengapa? Karena tak jarang dari remaja salah dalam mengapresiasikan kata tersebut dalam gaya hidup mereka.

Ada yang berpendapat bahwa gaul itu semacam hura-hura, nongkrong di pinggir jalan, atau sampai mabuk-mabukan segala. Ada juga yang mengartikan gaul itu diidentikkan dengan gaya rambut atau model baju yang sekarang sedang tren, dan mereka harus mengikuti gaya itu agar dikatakan gaul.

Padahal, setiap remaja belum tentu bisa mengikuti atau menerapkan definisi gaul dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Sebab, setiap remaja memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun gaya hidup dan lain sebagainya.

Dari sini, kita dapat mengambil sebuah definisi dari kata gaul, yaitu mengetahui perkembangan informasi pada era sekarang dalam berbagai bidang tanpa harus mengikutinya. Namun, harus berpegang teguh pada etika.

Dapat saya jelaskan di sini, perkembangan informasi yang terjadi sekarang tidak selamanya mutlak kita ikuti. Kita ambil contoh model rambut yang sekarang sedang tren adalah model mohawk, spike atau yang lainnya.

Tidak sepantasnya kita langsung mengikuti gaya rambut seperti itu tanpa melakukan suatu pertimbangan terlebih dahulu. Ada baiknya, kita berpikir ke depan sebelum akhirnya gaya rambut itu kita ikuti dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, timbul pertanyaan, bagaimana cara kita berpikir ke depan? Hal itu sangatlah mudah untuk kita lakukan. Caranya, kita harus menjawab pertanyaan yang timbul dalam benak kita, apabila gaya rambut seperti itu kita ikuti.

Misalnya, apakah model itu sesuai dengan bentuk wajah saya? Apa kata orang nanti setelah model rambut seperti itu saya ikuti? Apakah model rambut seperti itu memperindah penampilan saya? Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat selektif seperti itulah yang kita butuhkan sebelum akhirnya kita menerima atau menerapkan model rambut mohawk atau spike dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat selektif seperti itu juga kita perlukan sebelum kita menerima dan mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Misalnya, apabila seorang teman mengajak kita untuk nongkrong di pinggir jalan.

Dalam waktu singkat kita harus bisa memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat selektif mengenai hal itu. Kita harus menjawabnya dengan tepat dan cepat pula.

Sederat pertanyaan yang timbul misalnya, apa manfaat nongkrong di pinggir jalan bagi saya? Apa kata orang nanti kalau melihat saya nongkrong di pinggir jalan? Apakah tidak ada kegiatan yang lebih bermanfaat dibanding dengan nongkrong di pinggir jalan bagi saya?

Saya yakin, dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan yang bersifat selektif seperti itu dalam benak Anda, maka Anda akan bisa mengerti apa arti kata gaul yang sesuai dengan etika.

Jadi kesimpulannya, gaul tak selalu identik dengan sikap kita dalam mengikuti dan menerapkan perkembangan zaman dalam kehidupan sehari-hari.

Cukup dengan mengetahuinya, kita dapat dikatakan sebagai orang gaul yang tak melupakan etika. Sebab, kita mengetahui segala perkembangan zaman, namun kita tak selalu mengikutinya karena kita selalu berpikir selektif sebelum menerima dan menerapkan perkembangan zaman itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, akan tercipta SDM yang berkualitas, berbudi pekerti luhur, dan beretika tinggi dalam masyarakat Indonesia. (*)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA