| Senin, 23 Januari 2006 | MURIA |
Kesenian Tradisional Terancam PunahKUDUS - Beberapa jenis kesenian tradisional yang berkembang di kota Kretek pada dua atau tiga dekade yang lalu, semakin sulit dijumpai. Padahal seni tradisional seperti terbang empat, ketoprak, ludruk, anguk, dan kentrung golek itu pada era 70-an masih menjadi primadona hiburan bagi masyarakat. Pegiat kesenian lawak Kota Kretek, Markaban, menyatakan hal itu di sela-sela Refleksi Budaya 2006 yang diselenggarakan Himpunan Seni Gema Budaya Kudus (HSBGK) di hotel Kenari, Minggu (22/1). Hadir dalam kesempatan itu beberapa pemerhati kegiatan kesenian seperti T Budi Santoso, Yudhi Ns, Jumari Hs, dan sejumlah pendiri HSBGK seperti Farid Tomi, Syafaa, Asikin, dan Ketua Dewan Kesenian Kudus Ngatmin Alamanda. Acara juga dimeriahkan dengan pentas monolog, pembacaaan puisi, dan lawak. Lebih lanjut Markaban menambahkan, menghilangnya beberapa jenis kesenian tradisional -yang beberapa di antaranya merupakan khas Kudus seperti terbang empat- menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi komunitas seni. Pasalnya, bagaimanapun, kesenian itu merupakan hasil olah rasa, cipta, karsa, dan karya dari para pendahulu yang patut dilestarikan. Nguri-uri Hal senada juga dikemukakan pegiat HSBGK, Syafaa. Dia mengatakan generasi muda perlu merangkum kembali untuk nguri-uri budaya tradisional tersebut. Jika hal itu tidak dilakukan dengan serius, dikhawatirkan kesenian tradisional benar-benar hilang untuk selamanya di Kudus. Seorang penulis, Yudhi Ns, menyatakan perlu semangat untuk mengangkat nilai seni lokal Kudus. Menurutnya, meskipun kegiatan kesenian modern sekarang telah berkembang pesat, kesenian tradisional hendaknya juga dilestarikan. Salah satu hal yang dapat dilakukan, ujar Markaban, adalah mengetuk kepedulian Pemkab dan pihak swasta di kota Kudus untuk memberikan perhatian kepada jenis kesenian tersebut. ''Misalnya, pada saat tertentu baik Pemkab maupun swasta nanggap kesenian sejenis agar dapat disaksikan oleh masyarakat,'' katanya. (H8-61n) |