logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 MURIA
Line

''Yen Turu Blas Ora Kepenak...''

SUDAH tiga hari terakhir ini, Mulyono (48), warga RT 4 RW 6 Dukuh Krajan, Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Jepara, mengaku tak dapat lagi menikmati istirahat malamnya. Padahal, buruh bangunan yang pagi harinya bergelut dengan terik dan liatnya adonan semen tersebut, tidur malam yang pulas adalah salah satu cara baginya untuk memulihkan tenaga.

''Saiki yen turu blas ora kepenak, krungu suara mbrengengeng kaya montor mabur liwat (Sekarang kalau tidur sama sekali tak nyaman, terdengar suara mendengung seperti pesawat terbang yang melintas),'' akunya.

Setelah diusut, ternyata suara itu berasal dari jaringan saluran udara tegangan ekstratinggi (SUTET) 500 KV Tanjung Jati-Purwodadi-Ungaran, yang melewati desanya. Bunyi berisik tersebut semakin terdengar keras pada malam hari. terutama ketika hujan atau ada tiupan angin.

Satu hal lagi yang kini membuatnya jengah untuk sekadar merebahkan diri di balai-balai -untuk sekadar melepas lelah kala malam- yakni adanya bunyi gemeretak, seperti asbes yang terkena air hujan. Bahkan, dia mengaku pernah mencium bau seperti benda terbakar, pada saat muncul suara tersebut.

''Rasane mboten kepenak yen kahanane kaya ngene (Rasanya tidak nyaman dengan kondisi seperti ini).''

Belum lagi, pihak PLN beberapa hari lalu memberikan imbauan kepada warga, khususnya anak-anak, untuk tidak bermain layang-layang di bawah tower. Padahal, di sekitar tower tersebut sampai saat ini belum dibangun pagar pembatas.

''Lare-lare alit niku kan sok dolanan teng pundi mawon (Anak-anak kecil itu terkadang suka bermain di tempat itu,'' ujarnya.

Lain lagi Ngadimin, tetangga Mulyono, yang mengaku selain bunyi gemuruh tersebut, dirinya juga dibuat kesal karena pesawat TV yang merupakan satu-satunya hiburan miliknya, ikut terganggu. Menurutnya, kini TV 14 inci di ruang tamunya itu sering muncul garis-garis dan ''semut''.

''Kalau tidak salah ya sejak dimulainya uji coba pengisian tegangan,'' katanya.

Kini kondisi desanya sudah tak lagi nyaman seperti dahulu. Mulyono sempat mengaku telah mengajukan permintaan untuk direlokasi, baik kepada perangkat desa maupun Tim Sepuluh, yang selama ini menjadi mediator antara warga dan PLN.

Selain dua orang tersebut, warga lain yang juga berada di bawah jaringan SUTET di tempat tersebut, berjumlah 184 keluarga. Kemungkinan besar, mereka pun mengalami hal serupa seperti yang dikeluhkan warga RT 4 RW 6 desa tersebut. (Anton Wahyu Hartono-50s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA