logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 MURIA
Line

Dialog Suara Merdeka dengan Masyarakat Bola Jepara

Menanti Elite PSIS-Persijap Ngopi Bareng

HAMPIR di setiap pertandingan sepak bola dalam kompetisi nasional, kerawanan kerusuhan tetap menjadi sesuatu yang harus antisipasi pihak keamanan. Tak terkecuali pertandingan antara PSIS Semarang dan Persijap Jepara. Bagaimana peran media mengantisipasi potensi kerawanan itu? Apa dan bagaimana upaya yang mesti dilakukan masyarakat penggemar bola di daerah masing-masing?

Harian Suara Merdeka bersama publik bola Jepara, Sabtu (21/1), menggelar dialog bersama yang membahas seputar hal tersebut di Resto LA Marina Kelurahan Bulu, Jepara.

Dari Suara Merdeka hadir Kepala Desk Olahraga Ananto Pradono didampingi dua anggota redaktur, Darjo Soyat (desk olahraga), Dwi Ariadi (desk Jateng Utara), dan Prayitno (Kepala Biro Muria). Dari unsur masyarakat, hadir di antaranya Asisten Manajer Persijap dokter Nurkukuh, asisten pelatih Anjar JW, Ketua Jepara Tifosi Mania (Jetman) H Syafik dan Abdul Kholik, pelatih Persijap Madya Punto Wiyono, dan mantan Asisten Manajer Aris Isnandar ST.

Kekhawatiran dalam pertemuan itu pun bukan tanpa alasan. Sebab, dalam pertemuan terakhir kedua tim di ajang Piala Indonesia 2005 juga terjadi kerusuhan.

Pada putaran pertama terjadi di Stadion Kamal Djunaidi, saat Persijap menang 2-1. Kedua kelompok pendukung tim masing-masing terlibat aksi saling lempar. Kali kedua terjadi di Stadion Jatidiri. Saat itu PSIS kalah 2-3. Kerusuhan kedua hanya dilakukan suporter Semarang yang kecewa karena timnya kalah. Pada saat itu, suporter dari Jepara tak diperkenankan mengenakan atribut karena rawan bentrok.

Pada musim kompetisi Liga Indonesia 2006 ini, pertandingan pertama kedua tim dilakukan di Jepara pada 12 Maret mendatang dan pertandingan kedua di Semarang pada 11 Juni.

Gengsi akar bawah para penggila bola tetap tak bisa dihindari, dan sedikit saja muncul provokasi, tentu akan berakibat fatal. ''Saya berharap elite sepak bola kedua tim bisa memberikan contoh dalam panggung keakraban. Bisa lewat apa saja. Ngopi bareng misalnya, bisa dilakukan manajemen masing-masing, punggawa dari kedua kelompok suporter ataupun kelompok yang lain,'' kata Aris Isnandar.

Selama itu, lanjut mantan Asisten Manajer Persijap 2005 itu, ada kesan bahwa keran komunikasi kedua belah pihak kurang terbuka sehingga bisa memunculkan kesan ''ada jarak''.

Mengawali

Dia menyebut Suara Merdeka bisa mengawali upaya ''merekatkan'' klub yang sama-sama dari Jateng itu dengan pemberitaan-pemberitaannya.

Dokter Nurkukuh berharap ada keseimbangan dan netralitas wartawan peliput pertandingan untuk meminimalkan keberpihakan kepada tim masing-masing.

''Pers mesti bisa memberikan pendidikan kepada masyarakat. Tidak perlu khawatir oplah koran akan hancur dengan tidak memunculkan berita bombastis. Masyarakat mulai terdidik berpikir jangka panjang dan media menjunjung tinggi akurasi fakta. Ke depan, akan mendapatkan tempat di hati masyarakat,'' katanya.

Punto Wiyono menyebut, idealisme media dalam peliputan bola harus menjadi semacam reality show yang bisa merekatkan komunitas. Pihak suporter pun menegaskan bahwa objektivitas dan independensi pemberitaan sangat dibutuhkan, termasuk kearifan.

''Harapan penting kami, Suara Merdeka bisa menambah porsi pemberitaannya soal Persijap,'' kata Abdul Kholik, punggawa Jetman.

Ananto Pradono, Kepala Desk Olahraga Suara Merdeka berterima kasih atas masukan para pembaca dari publik bola Jepara. ''Kami terus berupaya mengetengahkan yang terbaik.

Untuk merekatkan komunitas penggemar bola Jateng tentu tidak hanya bertumpu pada media. Habitat bola pun sangat berpengaruh karena media sering memunculkan apa yang muncul dari habitat masyarakat itu,'' katanya.

Darjo Soyat mengibaratkan Suara Merdeka sebagai akuarium, sedangkan Persijap atau PSIS menjadi ikannya. ''Semuanya bisa saling memperindah diri dan saling melengkapi,'' imbuhnya.

Bersama media, masyarakat bola Jateng perlu membangun kesepahaman, bagaimana olahraga yang merakyat dan tumbuh subur di daerah-daerah di Jateng itu tidak kontraproduktif dengan nilai-nilai paseduluran yang telah lama terbangun.(Muhammadun Sanomae, Sukardi-61n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA