| Senin, 23 Januari 2006 | MURIA |
Penjualan Saus Turun 50 Persen
KUDUS - Merebaknya isu formalin menyisakan efek domino terhadap penjualan saus. Penjualan produk penyedap makanan tersebut mengalami penurunan hingga 50%. Menurut penuturan Surahman, pemasok saus di sejumlah warung di wilayah Kudus dan sebagian Jepara, semenjak adanya isu penggunaan formalin sebagai bahan tambahan dalam pembuatan mi, penjualan di sejumlah warung mi juga mengalami kelesuan. Hal itu berakibat pada pemasaran saus yang juga mengalami penurunan. Kondisi tersebut diperburuk dengan isu adanya daging tikus dalam pembuatan bakso. ''Warung bakso dan mi ayam itu merupakan langganan terbanyak dalam membeli saus, sehingga saya mengalami penurunan omzet penjualan. Itu mengakibatkan dagangan saus saya pun hanya laku separo dari biasanya,'' ujarnya. Warga Desa Jetak Kembang, Kecamatan Kota itu menyebutkan, jika sebelumnya dalam sehari dia mampu menjual 100 dus saus, kini penjualan hanya berkisar 50-60 dus per hari. Satu dus berisi 24 kantong saus ukuran 600 mililiter. Setiap dus, dia mematok harga Rp 27.000. Pria yang telah menggeluti bisnis saus selama sepuluh tahun tersebut mengaku penurunan omzet penjualan tersebut berpengaruh pada roda usahanya. Dengan omzet penjualan yang semakin menurun, dia mengaku kesulitan menanggung biaya operasional. ''Ada biaya transpor yang harus saya perhitungkan sehingga situasi ini memukul usaha saya,'' ungkapnya. Lebih lanjut dia menguraikan, saus yang ia jual itu berasal dari Kendal. Dia kemudian mendistribusikannya ke sejumlah pelanggannya, sesuai dengan jumlah permintaan. (tik-54n) |