logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Januari 2006 EKONOMI
Line

sekilas ekonomi

Penjualan Honda 53.750 Unit

JAKARTA-PT Honda Prospect Motor (HPM) berhasil mencatat angka penjulan 53.750 unit mobil di Indonesia selama tahun 2005.

"Meskipun secara umum kondisi pasar otomotif mengalami penurunan selama 2005, kami masih dapat meningkatkan angka penjualan dengan cukup signifikan," ungkap General Manager Sales and Marketing PT HPM Jonfis Fandy, akhir pekan lalu.

Dia menyebutkan selama tahun 2005, Honda menguasai pangsa pasar sebesar 10,1 persen, yang berarti ada peningkatan penjualan sebesar 15,6 persen. Ia memperkirakan konsumen mulai lebih selektif dan rasional dalam membeli mobil.

Selain itu, Honda juga unggul dalam penjualan pada kelas mini sedan dengan menguasai pangsa pasar sebesar 57 persen di kelasnya, atau sebanyak 7.475 unit. Sedangkan di kelas medium sedan pangsa pasarnya mencapai 26 persen atau 1.339 unit, dan small sedan mencapai 25 persen atau 820 unit.

" Secara total produk sedan (non taksi) terjual sebanyak 9.634 unit dengan pangsa pasar 41,8 persen," tutur Jonfis.

Ia menambahkan, untuk penjualan medium sport utility vehicle (SUV) Honda cukup mendominasi dengan mencapai 7.694 unit atau menguasai pangsa pasar sebesar 30 persen. Produk di kelas multi purpose vehicle (MPV) terjual sebanyak 3.658 unit untuk Honda Stream dan 523 unit untuk Honda Odyssey.

Adapun kontribusi paling besar dalam penjualan Honda pada 2005 adalah pada penjualan Honda Jazz sebanyak 32.241 unit atau menguasai pangsa pasar di kelas low MPV sebesar 30 persen. (bn-59)

Investasi Pertambangan Buruk

JAKARTA-Price Waterhouse Coopers (PwC) melaporkan, perusahaan pertambangan dunia masih memandang kondisi investasi di Indonesia tidak sebaik negara-negara lain di dunia. Ini mengacu pada rendahnya tingkat pengeluaran eksplorasi di Indonesia, yakni kurang dari 1,5% dari kenaikan tingkat pengeluaran eksplorasi global sebesar 58% dari tahun 2003 ke 2004.

"Pengeluaran ekplorasi global untuk tahun 2004 mencapai 1,5 miliar dolar AS dari 1,0 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya, sementara Indonesia pada periode yang sama tetap 7 juta dolar AS. Sebagian besar pengeluaran ekplorasi terjadi di Amerika Latin, Kanada, dan Afrika," kata Penasihat Ahli PwC Ray Headifen dalam paparan PwC untuk Sektor Pertambangan, di Jakarta, Jumat (20/1).

Dia mengatakan, ini hal yang patut diprihatinkan karena keberhasilan jangka panjang industri pertambangan bergantung pada investasi baru. Meskipun, kata dia, Indonesia masih memiliki prospek mineral yang begitu menjanjikan. "Pengeluaran eksplorasi di Indonesia baru akan berlanjut setelah perusahaan pertambangan yakin keadaan investasi membaik," jelasnya.

Namun, PwC juga melaporkan, industri pertambangan Indonesia saat ini masih meraih keuntungan. Hal ini karena membaiknya harga komoditas dunia. Headifen menuturkan, terjadi peningkatan penghasilan perusahaan pertambangan di Indonesia hingga 25% dan peningkatan laba bersih hingga 62%. "Harga komoditas menjadi penggerak utama, harga batu bara naik 65%," katanya. (dtc-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA