| Senin, 23 Januari 2006 | EKONOMI |
Nasabah UKM Bank Jateng Terpengaruh Isu FormalinSEMARANG-Meski diterpa isu formalin, pembayaran kredit nasabah UMKM khususnya yang bergerak di usaha pembuatan mi, bakso, dan tahu, masih lancar. Namun, beberapa debitur sempat masuk dalam pengawasan khusus (DPK). "Debitur yang bergerak di usaha mi, bakso, dan pembuatan tahu memang paling terkena dampaknya, sebab pemasarannya bisa drop hingga 70% lebih," kata Sri Hoetami, Pemimpin Bank Jateng Cabang Semarang, di sela-sela kampanye "Semarang Bebas Formalin" di Balai Kota, pekan lalu. Dia menambahkan, untuk menghindari kredit macet yang diakibatkan oleh isu formalin itu, pihaknya melakukan pendekatan secara personal kepada debitur. Selain itu, juga membantu dalam hal memberikan informasi kepada masyarakat bahwa produk yang dihasilkan tidak mengandung formalin atau bahan pengawet. "Sejauh ini memang tidak ada yang macet, hanya ada beberapa yang masuk DPK. Setelah kami dekati secara personal, akhirnya bisa lancar kembali," jelasnya. Debitur Bank Jateng yang mengikuti kegiatan di Balai Kota itu antara lain bakso "Pak Giyo", industri tahu "HT Bismillah", industri mi UD Teguh, dan warung mi ayam "Gloria". Sri Hoetami menegaskan, ke depan pihaknya tetap akan fokus ke sektor UMKM. Sektor ini dinilai memiliki daya tahan kuat, meskipun diterpa krisis ekonomi. Dia memaparkan realisasi penyaluran kredit Bank Jateng Cabang Semarang per Desember 2005 Rp 302 miliar atau 98,84% dari rencana Rp 305,57 miliar dengan jumlah 16.888 debitur. Perinciannya, untuk pengusaha mikro Rp 241,5 miliar (16.046 debitur), usaha kecil Rp 50,3 miliar (408 debitur), usaha menengah Rp 4,9 miliar (9 debitur), dan sisanya adalah usaha besar Rp 5,2 miliar. "Rencana penyaluran kredit untuk 2006 ini Rp 392, 98 miliar atau 120% dari tahun sebelumnya." (H9-59t) |