| Rabu, 18 Januari 2006 | SALA |
Menawarkan KA sebagai Angkutan PerkotaanKEBERADAAN jalur kereta api (KA) Solo-Wonogiri yang melintasi tengah Kota Solo selama ini masih menimbulkan pro dan kontra. Perjalanan waktu telah mengubah wajah kota itu jauh berbeda dari 1923 saat Pemerintah Hindia Belanda mengoperasikan jalur tersebut. Saat ini sarana angkutan kota semakin lengkap baik kendaraan bermotor maupun yang masih tradisional alias menggunakan tenaga manusia. Arus lalu lintas di perkotaan semakin padat, menyusul peningkatan jumlah kendaraan umum ataupun pribadi dari berbagai jenis dan merek. Becak, andong, motor, mobilm bus kota, dan angkutan kota (angkot) berjejal menelusuri jalanan. Mungkin ketika Pemerintah Hindia Belanda melalui Natherlands Indische Spoorwage (NIS) mengoperasikan KA Solo-Wonogiri pada 1 April 1923, arus lalu lintas dan angkutan umum tak sepadat dan beragam seperti saat ini. Bisa jadi KA tersebut merupakan satu-satunya alat angkutan umum perkotaan ataupun antarkota yang bisa mengangkut penumpang secara massal. Panjang jalur KA Solo-Wonogiri 33 km. Jalur itu mulai dari Stasiun Purwosari menuju ke Wonogiri melewati rel di tengah kota sisi selatan Jalan Slamet Riyadi sepanjang 5,8 km. Dari Stasiun Purwosari, rangkaian rel yang melewati tengah kota itu ada jalur yang terkenal dengan rel bengkong yang memotong jalan protokol tersebut. Rel bengkong itulah yang pada saat ini sering menjadi perdebatan. Sebab, sering terjadi kecelakaan lalu lintas, apalagi pada musim penghujan. Saat ini, jalur KA itu hanya satu rangkaian KA dalam sehari yang melewatinya, yaitu KA feeder. Setiap hari, KA itu berangkat dari Stasiun Purwosari pukul 07.30 menuju ke Wonogiri dan kembali lagi ke Stasiun Purwosari sekitar pukul 14.30. Selain KA penumpang, ada secara berkala satu rangkaian KA pengangkut pupuk yang melintasi menuju ke Sukoharjo. Angkutan Wisata Pernah ada memang, upaya menghidupkan lagi keberadaan KA Solo-Wonogiri sebagai alternatif angkutan wisata. Kemasan kereta api itu disebut KA Panakawan yang berjalan setiap Minggu. Namun, keberadaannya perlahan lenyap di tengah deru bising angkutan umum perkotaan yang semakin menyemut di Jalan Slamet Riyadi. Selain itu ada jalur KA serupa, yaitu Stasiun Purwosari-Gembongan. Kereta itu untuk mengangkut produksi Pabrik Tembakau Gembongan. Rel KA yang melintas di pinggir Jalan Achmad Yani Kartosura itu ditutup oleh Pemkab Sukoharjo karena tidak lagi berfungsi. Selanjutnya, bekas rel itu ditutup aspal untuk pelebaran jalan menjadi dua lajur. Akankah rel KA Solo-Wonogiri itu akan mengalami nasib serupa? Ditutup dan tidak dimanfaatkan lagi? Jawabannya diserahkan kepada masyarakat dan Pemkot Solo sebagai pemangku kepentingan. Kepentingan warga dan Pemkot akan sangat memengaruhi tetap lestarinya lintasan rel KA tersebut. Masalah-masalah seputar keberadaan KA Solo-Wonogiri itu akan diangkat dalam diskusi yang digelar Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Solo. Hasil diskusi tersebut nantinya akan menjadi acuan mengoptimalkan pelayanan angkutan massal perkotaan. "Kalau hasil diskusi nanti ternyata masih dibutuhkan angkutan massal dengan KA, akan kami jadikan modal untuk mengajukan bantuan kepada Departemen Perhubungan. Sebab sebelumnya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian sudah menjanjikan akan memberikan bantuan untuk upaya memasyakatkan KA sebagai angkutan perkotaan," papar Kepala DLLAJ Solo Ponco Wibowo. Akankah rencana Pemkot untuk menambah fasilitas pelayanan angkutan umum mendapatkan dukungan? Salah satunya berangkat dari tanggapan yang muncul pada diskusi yang menurut rencana digelar 22 Januari. (Sri Wahjoedi-16j) |