| Rabu, 18 Januari 2006 | PANTURA |
PesisiranSeharusnya Berterima Kasih pada Rubrik KepribenOleh: WijanartoUNGKAPAN kepriben merupakan sebuah ungkapan yang mempertanyakan dan sekaligus katup menggugat kekecewaan terhadap sebuah peristiwa. Maka, berbeda dengan misuhi yang cenderung mengata-katai, ungkapan kepriben sebenarnya mempersoalkan terhadap konteks kebijakan yang mempengaruhi peristiwa yang tengah berjalan. Katakanlah untuk menjadi jeda atau interupsi guna mereinterpretasi. Maka, dalam sebuah konteks ungkapan pembicaraan kepriben akan disertai ucapan ''Kepriben donge, bisane kaya kiye?''. Jelas bagi masyarakat pantura, peristilahan kepriben lebih ditekankan pada keterbukaan berkomunikasi. Ini berbeda dengan pasemon yang lebih terbungkus dalam estetika berbahasa, bahkan cenderung terbungkus eufemisme. Makna yang ditangkap adalah implisit tersirat. Kita bisa menangkap kesan ini dalam karya-karya sastra Jawa abad XIX yang menyoroti distorsi peradaban masyarakat Jawa khususnya keraton. Contohnya Serat Kalatida pujangga Ranggawarsita. Nyaris untuk ditelisik semenjak munculnya lembaran Pantura Suara Merdeka dan kolom layanan pesan pendek (short message service) Kepriben yang menghiasi lembaran Pantura Suara Merdeka menjadi kekuatan komunikasi antara masyarakat dan pengambil kebijakan baik dari pemerintah maupun dari nonpemerintahan. Medan berkomunikasi ini secara eksplisit jelas tergambar dalam kolom Kepriben. Kolom tersebut tak sekadar grundelan, namun juga bersifat mempertanyakan terhadap tafsir realitas dan sebuah kebijakan. Jangan heran bila isi pesan pendek bersifat disclosure communication tanpa sekat. Tak ada hal yang tertutup dengan bantuan kecanggihan teknologi saya tak bisa membayangkan dalam satu hari berapa ratus layanan pendek menyerbu meja redaksi dalam hitungan per-menit. Hampir keseluruhan isi pesan bernada mempertanyakan, menggugat ihwal pelayanan publik, kinerja sebuah institusi, bahkan kabar-kabar aktual. Kita simak khususnya di Kabupaten Brebes ihwal soal penanganan infrastruktur jalan yang amburadul. Contohnya yang ditujukan kepada Bupati Brebes pada tanggal 20 Desember 2005, ''Pak Bupati Brebes tolong DPU ditegur. Perbaikan jalan Klampok-Banjaratma sudah empat bulan belum rampung...''. Masalah jalan kembali diungkit seorang pembaca yang mengirimkan pesan pendek dan dimuat 19 Desember 2005, ''Gimana nih Bupati Brebes jalan tembus Tengguli-Lawanggede diaspal kok pucuknya dibiarkan kaya kubangan kerbau...''. Begitu Realitasnya Bahkan dengan keterusterangan ada layanan pendek yang mengungkapkan rasa malunya jadi wong Brebes hanya soal jalan berantakan. Tapi, memang begitulah realitasnya. Catatan statistik dalam Brebes dalam Angka tahun 2004 jalan di Kabupaten Brebes terbagi dalam beberapa penggolongan. Di antaranya: (1) jalan negara, (2) jalan provinsi, (3) jalan kabupaten, dan (4) jalan desa. Parahnya infrastruktur jalan terlihat dari tingkat kerusakan dan kondisi kelaikannya. Memang dilihat dari tingkat kerusakan cukup parah adalah jalan desa. Dari ruas jalan desa sepanjang 889.900 km yang dalam kondisi baik cuma 145.807 (16,40%). Tingkat keparahan kedua disandang jalan kabupaten yang mempunyai ruas sepanjang 647.840 km yang dalam kondisi layak 434.659 km (64,40%). Sementara jalan provinsi dari ruas sepanjang 164.490 km yang layak 151.450 km (92,07%). Dan jalan negara sejauh 59.435 km yang fit 85,28% (50.689 km). Ini catatan tahun 2004. Dan, sehubungan musim hujan kemungkinan tingkat kerusakannya bisa mencapai 30%. Masalah layanan publik juga kerap mewarnai kolom Kepriben. Jangan heran jika masalah pembuatan SIM, birokrasi yang mulur-mungkret bikin pusing, pungutan tak berkuitansi hingga ketidakpuasan pelanggan operator layanan ponsel mewarnainya. Contoh sebuah layanan pendek yang ditujukan kepada Kantor Samsat Kota Tegal pada 20 Desember 2005, ''Untuk Samsat Kota Tegal kenapa jumlah yang harus dibayar wajib pajak tidak sesuai dengan angka di ketetapan pajak kendaraan bermotor. Hari gini masih saja ada pungli''. Bahkan dengan bahasa lugas ada kejengkelan terhadap pelayanan PDAM Kabupaten Brebes yang dimuat 19 Desember 2005, sehingga di-ente-ente, ''PDAM Brebes ente pibe wis pirang-pirang dina banyu ora metu. Niat muasna pelanggan ora? Apa niate mung muasna setoran rekening?''. Dampak pengaruh makanan berformalin pun menjadi luapan pembaca. Simak pesan yang dikirim dan termuat 12 Januari 2006, ''Mohon informasi untuk mengetes suatu makanan mengandung formalin menggunakan kimia apa dan bagaimana caranya...''. Sebetulnya para pengambil kebijakan mestinya berterima kasih terhadap kolom Kepriben, karena di dalamnya bisa digunakan pertimbangan untuk memperbaiki kinerja dan kualitas pelayanan. Sifat keterbukaan, ceplas-ceplos dan egaliter adalah ruh keunikan kolom ini. Betapapun ini merupakan ruang peluapan katarsis dan lenguhan saat mereka tak bisa mengadukan karena hambatan psikologis birokrasi maupun karena birokrasi tersebut menutup telinga. Tentu saja ada tindak lanjut dari para pengambil kebijakan. Jadi mereka yang mengirim layanan pendek tak sekadar interupsi. Mereka telah berupaya dengan melihat bukan dengan kacamata kuda.(*) Penulis adalah warga Brebes.(19) |