| Rabu, 18 Januari 2006 | PANTURA |
Industri Kecil Pelapisan LogamDari Tiga Karyawan, Kini 70 KaryawanSEBUAH mesin poles yang digerakkan dinamo terlihat berputar cepat. Di bagian roda terpasang kain tebal dari bahan jins. Ketika roda itu berputar, seorang pekerja menempelkan logam pada kain yang menempel di roda. Semakin cepat gesekan, logam itu semakin mengilap. Proses pemolesan itu merupakan tahap kedua, dari proses industri kecil pelapisan logam (krom). Sebelum masuk ke proses tersebut, logam yang semula mengandung karat atau dalam keadaan kusam, diolesi soda api, bahan kimia remover atau HCl (asam chlorida). ''Sehabis diolesi soda api atau bahan kimia remover, logam dibersihkan menggunakan sikat kawat baja supaya bersih,'' kata H Jamaludin, pemilik usaha pelapisan logam PT Setia Kawan yang berlokasi di Jl Raya Dampyak No 45, Kabupaten Tegal. Di kawasan pantura wilayah eks Karesidenan Pekalongan, industri krom merupakan usaha spesifik yang langka. Terbukti di wilayah Kota Tegal dan Kabupaten hanya ada dua usaha sejenis. Karena itu, tak heran bila usaha milik Jamaludin itu kini menjadi tumpuan pengguna jasa krom dari wilayah Pekalongan, Cirebon, Semarang, dan Jakarta. Ordernya setiap hari berdatangan dari berbagai kota. Bahkan sebuah perusahaan di Jakarta kini menjalin kerja sama dengan industri tersebut. ''Sebuah perusahaan oli dari Jakarta memanfaatkan jasa kami dengan memoles tutup tangki di sini,'' kata Moh Khalimi, karyawan PT Setia Kawan. Apa saja yang dilayani usaha jasa itu? Menurut Jamaludin, anak kelima dari H Moch Ismail Mas'ud, pendiri usaha itu, adalah semua bahan dari logam. Bisa pipa besi, blok mesin motor, onderdil sepeda, veleg mobil/motor atau sepeda. ''Yang belakangan ramai justru onderdil sepeda dayung. Mereka ingin kelihatan baru lagi sehingga dikrom,'' paparnya. Lelaki bertubuh gendut itu mengaku sebenarnya bisa memoles bahan dari plastik atau fiberglass supaya kelihatan mengilap. Namun karena ordernya kecil, dia tidak mau menanggung risiko. Makin Maju Usaha krom itu, lanjut dia, semula berada di Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Tahun 1962, ayah Jamaludin hanya ditemani tiga karyawan. Setelah usaha makin maju, mereka mendirikan perusahaan di pinggir jalan raya antara Tegal-Pemalang. Kini karyawannya mencapai 70 orang. Mereka terbagi dalam beberapa bagian seperti bagian penghilangan lapisan, selep, pembersihan, dan proses krom. Dari beberapa tahapan itu, yang paling membutuhkan waktu adalah proses pengilangan lapisan. Logam yang berkarat, penuh korosi, ataupun dilapisi cat harus dibersihkan terlebih dahulu sampai kelihatan serat logamnya. Setelah itu, masuk ke mesin poles sampai betul-betul mengilap. Untuk proses ini, pengusaha menyediakan 14 mesin poles yang ditempatkan dalam satu ruangan. Selanjutnya logam yang sudah mengilap dicuci dengan bensin atau menggunakan HCl supaya lemak tidak menempel lagi. ''Yang jelas, sebelum logam dimasukkan ke larutan nikel dan masuk bak krom, harus dalam keadaan bersih,'' paparnya. Dari sisi harga, jasa krom itu relatif murah. Contoh, ongkos penggarapan sebuah reflektor lampu bus agar mengilap Rp 17.500, setang sepeda dayung Rp 25.000, lis setengkas sepeda Rp 15.000. Yang jelas, usaha tersebut setiap bulan dapat menyelesaikan 10.000 unit barang. Jamaludin enggan menyebutkan omzet usahanya itu. Namun dia menyatakan sangat bersyukur karena dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dia menyebutkan, kendala utama dari proses mengerjakan krom, terutama dijumpai pada barang/logam yang kecil dan logam yang memiliki sela-sela seperti blok mesin motor. ''Blok mesin motor yang dikrom biasanya pada sela-selanya tidak terjangkau karena tidak bisa dibersihkan dengan selep,'' ujarnya. (Wahidin Soedja-52n) |