logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 PANTURA
Line

Berjam-jam Berpegangan Tali Jaring

TIDAK ada pilihan lain kecuali cepat-cepat menyelamatkan diri. Itulah gambaran bagi 23 ABK KM Gunung Baru 5, menjelang terbaliknya kapal. Ngadiran dan Daimin, bapak dan anak pemilik kapal itu, juga terjun ke laut dalam kedaan hujan deras dan angin kencang.

''Begitu mengetahui kapal disapu gelombang dan oleng, saya bersama ABK yang lain langsung terjun,'' ujar Daimin. Namun karena gelap dan hujan deras, para ABK itu langsung terpencar. Dia tidak tahu ke mana harus menyelamatkan diri. Tiba-tiba, dia melihat badan kapal yang dalam keadaan terbalik itu muncul.

Selanjutnya dia meraih tali jaring untuk mendekat. Selama berjam-jam dia bepegangan sampai akhirnya datang kapal nelayan penolong.

''Pada saat itu, saya tidak tahu ke mana anak saya dan ABK yang lain. Syukur alhamdulillah, ternyata semuanya selamat. Kalau ingat peristiwa malam itu, ngeri sekali.''

Hal yang sama juga dikatakan Ngadiran. Pilihan untuk terjun ke laut merupakan langkah tepat. Sebab, selain setir kemudi patah, kapal juga sudah oleng.

Begitu mendekati lampu mercusuar, dia terkejut karena ketika akan dibelokkan, setirnya patah. Tak beberapa lama, buritan kapal disapu gelombang yang kemudian menghantam pier. ''Setelah itu kapal oleng ke kanan dan kami segera terjun.''

Dia menuturkan, saat dalam perjalanan pulang itu mereka belum mendapatkan ikan karena selain gelombangnya besar, hujan juga turun sepanjang hari.

''Kalau tidak salah, kami baru mendapatkan empat keranjang. Karena ombak besar itulah sebenarnya kami memutuskan untuk kembali merapat ke pelabuhan. Ternyata justru terjadi musibah. Beruntung kami semua selamat, tidak ada satu pun yang luka.'' (Arif Suryoto-52n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA