logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 PANTURA
Line

Hari Jadi Ke-328 Brebes

Tak Semudah Membalik Tangan

IDEALNYA setiap orang pasti menginginkan tinggal di suatu daerah yang nyaman, aman, tenteram, semua warganya patuh pada aturan dan memiliki kedisiplinan tinggi, serta tidak ada pelanggaran hukum.

Keinginan tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan, sebab pada dasarnya setiap manusia pasti ingin hidup tenang. Hal itu bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk dapat diwujudkan.

Namun, untuk mewujudkannya ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab, dibutuhkan kegigihan dan semangat dari para elemen masyarakat, mulai dari pemerintah hingga masyarakat kecil yang ada di dalamnya.

Selama ini, berbagai persoalan yang mencerminkan ketenangan hidup masih belum sepenuhnya terwujud di Kabupaten Brebes. Hal itu terlihat dari banyaknya kasus tawuran yang masih terjadi di sejumlah desa.

Data dari Polres Brebes dalam kurun waktu September hingga awal November 2005 telah terjadi empat kasus tawuran antarwarga yang melibatkan ratusan orang.

Kerusuhan tersebut terjadi di Kecamatan Larangan, Losari, Salem, dan Ketanggungan. Dari empat kasus kerusuhan yang ada polisi mendapatkan 44 tersangka, terdiri 29 tersangka kasus kerusuhan di Kecamatan Larangan, satu tersangka di Losari, lima tersangka di Salem, dan sembilan tersangka di Ketanggungan.

Menurut Kasatreskrim Polres AKP Mugi Sekarjaya SSos SIK, terlepas dari berbagai sebab terjadinya kerusuhan, hampir semua dilakukan masyarakat golongan ekonomi lemah. Diduga, persoalan utama yang melatarbelakangi adalah kondisi masyarakat yang semakin terjepit oleh kesulitan ekonomi.

Di satu sisi, urusan perut mereka belum terpenuhi, di sisi lain ada faktor lain yang memicu meledaknya emosi warga, seperti kecemburuan sosial maupun salah paham. Akibatnya, emosi mereka mudah terbakar dan mudah melakukan kekerasan.

"Apapun alasannya semua pelaku yang terlibat di dalamnya akan diproses sesuai hukum. Hal itu dimaksudkan agar mereka jera dan tidak mengulangi perbuatannya," katanya.

Masalah Penyakit

Selain masalah tawur, masih ada persoalan lain yang menimpa Brebes. Persoalan itu di antaranya masih banyaknya masyarakat yang terjangkit penyakit demam berdarah dan kusta, serta ditemukannya sejumlah penderita penyakit polio liar. Bahkan, dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes pada tahun 2005 ditemukan 11 penderita polio liar.

Munculnya persoalan tersebut tidak terlepas dari kebiasaan dan budaya masyarakat yang kurang disiplin. Budaya yang terbentuk pada sebagian masyarakat sudah terlanjur terbiasa mengabaikan larangan yang ada, termasuk membuang sampah sembarangan.

Dengan demikian lingkungan yang terbentuk menjadi tidak sehat. Akibatnya, ketidakdisiplinan yang didukung lingkungan tidak sehat menyebabkan terjadinya endemis berkepanjangan.

Padahal, selama ini tidak semua masyarakat tinggal di tempat aman. Sejumlah wilayah di Brebes terutama di bagian selatan seperti Kecamatan Salem, rawan bencana tanah longsor dan banjir.

Berdasarkan data dari Kantor Kesbanglinmas, dalam satu minggu pertama Januari 2006, sebanyak 22 kali bencana banjir dan tanah longsor sudah terjadi.

Kondisi demikian masih diperparah lagi dengan sejumlah kerusakan jalan yang hampir terjadi di seluruh ruas jalan. Hal itu selain dikeluhkan pemakai jalan, juga mengakibatkan perekonomian masyarakat terhambat, sehingga berdampak pula pada laju terhambatnya pembangunan daerah itu.

Berbagai Upaya

Bupati Brebes Indra Kusuma mengatakan untuk mengatasi sejumlah persoalan tersebut Pemkab telah melakukan berbagai upaya. Misalnya tentang tawuran antarwarga selain merangkul semua tokoh-tokoh masyarakat maupun pemuka agama, dia juga memerintahkan ke seluruh camat dan kepala desa yang ada untuk melakukan pencegahan secara dini.

Dalam hal kerusakan jalan, menurut Indra, pada 2006 Pemkab telah mengangarkan pembangunan perbaikan jalan berupa hotmix dipatok mencapai Rp 43 miliar. Menurutnya, pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan warga dengan mempermudah akses bagi mereka.

Sementara dalam penanganan bencana alam, dia mengaku telah mengimbau seluruh jajarannya untuk selalu waspada dan memberikan peringatan kepada masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya bencana. Apabila suatu wilayah tidak aman untuk ditempati seyogyanya masyarakat tidak memaksakan diri.

Namun, berbagai bentuk upaya pemerintah tersebut diakui Indra memerlukan dukungan semua pihak, termasuk masyarakat sendiri. Anggapan pembangunan hanya merupakan tugas pemerintah, merupakan anggapan salah. Sebab, apabila ingin berhasil pembangunan harus melibatkan seluruh masyarakat. Dengan demikian, diharapkan pembangunan dapat berhasil.

Indra mengatakan, sejumlah prestasi telah diraih, di antaranya sebagai kabupaten tercepat dalam pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Juara pertama tingkat nasional lomba Pengelolaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), juara pertama tingkat nasional lomba Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), juara pertama tingkat provinsi untuk kegiatan Gerakan Sayang Ibu (GSI).

Karena itu, 18 Januari 2006 ini Brebes akan merayakan HUT Ke-328. Meskipun dilakukan secara sederhana, diharapkan peringatan kali ini mampu membentuk sinergi yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Sebab, bukan mustahil berbagai kekurangan yang ada saat ini dapat dieliminir.

Seperti tema yang dicanangkan, yakni ''Dengan Hari Jadi Brebes Tahun 2006, Jadikan Brebes Bebas Narkoba, Tingkatkan Kebersihan Lingkungan dengan 3 M, dan Cegahlah Polio dengan Imunisasi Sejak Dini'', semuanya akan berhasil apabila masyarakat bersedia mendukung sepenuhnya.(Wawan Hudiyanto-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA