logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 PANTURA
Line

16 Rumah dan 4 Jembatan Rusak

PEMALANG - Hujan deras yang mengguyur daerah selatan Kabupaten Pemalang mengakibatkan musibah beruntun berupa banjir dan longsor di tiga kecamatan.

Dalam musibah itu sedikitnya 16 rumah rusak atau roboh, empat jembatan juga mengalami kerusakan.

Menurut penuturan warga, hujan deras turun hampir sehari penuh pada Senin (16/1) lalu. Sekitar pukul 17.00 air mulai meluap dari beberapa sungai.

Di Dukuh Larangan, Desa Jatingarang, Kecamatan Bodeh, luapan air dari Sungai Ijo meruntuhkan tiga rumah penduduk yang berada di pinggir sungai.

Ketiga rumah itu adalah milik Carim (45), Casdari (45), dan Camad (62). Bangunan rumah yang terbuat dari papan dengan atap seng itu roboh berantakan. Penghuninya menyelamatkan diri ke tempat saudaranya.

Dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa atau luka-luka.

Selain tiga rumah roboh, tiga lainnya juga rusak cukup parah karena bangunan rumah itu sebelumnya sudah condong. Kerugian yang diderita pemilik rumah cukup banyak karena perabotan dapur dan lemari hanyut terbawa arus air.

''Waktu itu kami tidak bisa menyelamatkan barang-barang karena air datang begitu cepat setinggi satu meter lebih. Sebaliknya, air cepat pula surut,'' ujar Casdari.

Air deras yang meluap saat itu juga membawa serta material berupa pepohonan dan batu-batuan. Selain enam rumah, banjir juga meruntuhkan fondasi jembatan di Dukuh Larangan.

Sementara itu di Desa Bodas, Kecamatan Watukumpul, pada waktu hampir bersamaan juga terjadi tanah longsor di dua dukuh, yaitu Siklinting dan Penusupan. Di Dukuh Siklinting longsor itu merusakkan empat rumah warga. Keempat rumah itu adalah milik Datri (70), Satibi (70), Carto (40), dan Kartoyo (40), sedangkan di Dukuh Penusupan merusakkan 2 rumah, 1 masjid, dan 1 jembatan.

Hal yang sama juga sangat mungkin terjadi di Desa Sarwodadi, Kecamatan Bantarbolang. Kini, sebuah jembatan gantung yang menghubungkan desa itu dengan Desa Pabuaran sudah roboh hingga tak bisa digunakan lagi.

Dekati Ambang Batas

Bencana longsor juga melanda Dukuh Jaha, Desa Tundagan, Kecamatan Watukumpul. Meskipun permukiman selamat, lahan perkebunan milik warga juga tertimbun longsoran.

Sementara itu di Dukuh Kededelan, Desa Gapura, Kecamatan Watukumpul, 4 rumah rusak parah tertimpa longsoran sebuah bukit. Lonsor juga memorakporandakan jalan desa sepanjang 500 meter, 1 jembatan, 4 hektare sawah, dan 2 hektare kebun.

Penjaga pintu Bendung Sukowati, Surip mengatakan, hujan yang turun di daerah selatan itu, Senin lalu, cukup hebat. Terbukti air di bendung naik setinggi 5,60 meter.

Hampir mendekati ambang batas ketinggian bendung. Jika air saat itu terus naik maka bisa dimungkinkan terulang lagi banjir bandang pada 1988.

Namun pada pukul 21.00 air mulai surut. Terhadap bencana yang terjadi beruntun itu, sejumlah pejabat kemarin meninjau ke lokasi musibah. Di antaranya Komandan Dandim 0711 Pemalang Letkol Kav Wawan Riswandi dan Kepala Kantor Kesbang Linmas Drs Budhi Rahardjo.

Mereka antara lain meninjau lokasi musibah di Desa Jatingarang didampingi Camat Bodeh Ahmad Patah SIP. Bantuan dari kabupaten berupa beras dan uang sudah diberikan kepada para korban. (sf-52n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA