| Rabu, 18 Januari 2006 | PANTURA |
Ingin Rekornya Dicatat MuriHAMPIR sebagian besar nelayan pantura mengenali wajahnya. Dia adalah Achmad Mutaqien (36), Kepala Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Brebes. Mengapa dia begitu dekat dengan nelayan? Karena, di sela kesibukan mengurus pemerintahan desa, lelaki ini juga masih sempat mengurus koperasi nelayan, yakni sebagai Ketua Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mandiri (LEP2M). Tugas barunya memang cukup berat membantu mengatasi kesulitan nelayan. Baik, dalam hal permodalan maupun pemasaran hasil perikanan. Terlebih di saat isu formalin yang dampaknya sangat dirasakan sekali para nelayan. Dia harus pandai-pandai mengajak nelayan untuk tidak putus asa bekerja di laut. ''Isu formalin memang cukup berat dampaknya bagi nelayan. Kita yang ada di bawah ikut repot,'' kata lelaki kelahiran 20 Maret 1970 itu. Meski mengaku beban di pundak cukup berat, suami dari Ny Siti Juriyah mengaku optimis dapat membantu nelayan kecil. Sebab, jabatan sebagai kepala desa pada 26 Januari 2006 akan berakhir, setelah delapan tahun diembannya. Yang unik, ketika masa jabatan akan berakhir, lelaki penggemar sea food itu, Minggu lalu (15/1) menyelenggarakan kegiatan jalan santai yang diikuti sekaligus 23.000 orang. Karuan saja dia harus mengumpulkan banyak sponsor dan merogoh kocek pribadi untuk suksesnya acara tersebut. Sebab, kegiatan spektakuler itu katanya menghabiskan biaya sampai Rp 65 juta. ''Dari penjualan karcis peserta gerak jalan sehat panitia mendapatkan sekitar Rp 40 juta, tapi harus mengeluarkan biaya sampai Rp 65 juta,'' kata lelaki berkulit sawo matang itu. Punya Etika Apa yang dia cari dari kegiatan tersebut, hanya ingin menunjukkan dirinya sebagai kepala desa mempunyai etika. Maksudnya, saat datang menjabat kepala desa kelihatan dadanya, dan saat akan turun pun berpamitan dengan memperlihatkan punggungnya. Melihat begitu besar peserta gerak jalan yang berlabel, Sewindu Bersama Achmad Mutaqien, lelaki satu anak itu mengatakan sebenarnya ingin dicatat ke Museum Rekor Indonesia (Muri), seperti kegiatan serupa yang sudah dilaksanakan di Batang. Karena itu, meski saat kegiatan tidak mengundang manajemen Muri, pihaknya lewat dokumen video maupun foto yang ada akan mengirimkan datanya ke Semarang.(Wahidin Soedja-19) |