| Rabu, 18 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Dana PJP Tidak Utuh, Bayu Tidak Mau TerimaSEMARANG- Pengda Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Jateng membantah bahwa dana Pelatda Jangka Panjang (PJP) yang sumbernya dari KONI belum diserahkan kepada atlet. Sekarang hanya tinggal Bayu Satrio dan Adi Wibowo yang tidak mau menerima, karena jumlahnya tidak utuh. Sanggahan itu disampaikan oleh Ketua Harian Pengda ISSI Jateng Tri Suntoro seusai memenuhi panggilan KONI Jateng. ''Bukan belum menerima. Yang benar, Bayu Satrio tidak mau menerima karena jumlahnya tidak utuh,''' jelasnya kepada wartawan di Kantor KONI Jateng, siang kemarin. Diakuinya, jumlah uang PJP Rp Rp 1,5 juta/bulan/atlet sebelum dipotong PPN (pajak pertambahan nilai) untuk lima pembalap dan tiga pelatih. Tetapi oleh Pengda, dana tersebut diperuntukkan bagi tujuh atlet dan lima pelatih, sehingga jumlah uang yang diterima oleh atlet dan pelatih makin kecil. Pembengkakan jumlah atlet dan pelatih tersebut, katanya, terpaksa dilakukan karena untuk memenuhi kebutuhan. Setiap ada lomba, satu tim membutuhkan lima atlet, yang terdiri atas empat pemain inti dan satu pemain cadangan, sebagai persiapan Tour d' Indonesia yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun 2006. Tujuh atlet itu adalah Edy Purnomo, Iwan, dan Haksa, ketiganya bergabung dengan Klub Bea Cukai Jakarta, Adi Wibowo (Klub Wismilak Surabaya), Bayu Satrio (Klub Jamu Iboe Yogyakarta), Edward (sepeda gunung), dan Suyamti, pembalap putri asal Sukoharjo. ''PJP yang seharusnya untuk lima atlet, terpaksa kami bagi rata untuk tujuh atlet. Demikian halnya pelatih, dari jatah tiga orang, kami bagi rata untuk lima orang. Ini semua kami lakukan hanya untuk menjalankan program Pengda, karena syarat minimal tim harus ada lima pembalap. KONI juga sudah menyetujui program kami,'' tandasnya. Diminta Mundur Bahkan, setelah tidak mau mengambil dana PJP selama dua bulan (Agustus dan September 2005), Bayu Satrio diminta untuk membuat pernyataan yang isinya mundur dari PJP, untuk kemudian segera diisi oleh atlet yang lain. ''Sudah kami beri tahu lewat SMS, kalau tidak mau mengambil, akan kami minta untuk membuat surat pernyataan mundur, karena masih banyak atlet yang berprestasi. Kecuali Bayu dan Adi, semuanya sudah menerima. Jadi, tidak sesen pun yang masuk ke kantong pengurus.'' Dia menambahkan, saat ini ISSI Jateng sedang melakukan ancang-ancang untuk menuju Tour d' Indonesia, sehingga untuk dua bulan sekali mereka diharapkan berkumpul bersama, yang akan ditangani oleh lima pelatih, yaitu Arifin, Nur Rochman, Heriyono, Agus Adiyanto, dan Jewarsi. ''Sebagai persyaratan bisa tampil di Tour d' Indonesia, harus bisa mengumpulkan sekian poin, sehingga sebelumnya Jateng harus mengikuti berbagai kejuaraan. Akhirnya kami bentuk tim seperti itu, dengan melibatkan lima pelatih,'' tegasnya. Sementara itu, saat menanggapi masalah tersebut Kabid Binpres KONI Jateng Mugiyo Hartono mengatakan, masalah Bayu Satrio dan Adi Wibowo telah diserahkan sepenuhnya kepada Pengda ISSI untuk diselesaikan. Menurut Mugiyo, KONI hanya sebagai penengah. Dia berharap Pengda mengambil keputusan yang bijaksana yang bisa diterima kedua belah pihak. "Yang penting keputusan tersebut mengedepankan prestasi atlet Jateng." (C16,knd-28t) |