logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Yang Tertindas

Dalam khasanah budaya Jawa dikenal istilah rewang, batur dan babu, yaitu orang yang merasa wong cilik dari desa, datang ke wong gedhe di kota untuk nge-nger, pasrah bongkokan dan bekerja apa saja sepenuh hati. Dalam perjalanan sejarah sebutan tersebut mengalami proses eufi-misme.

Istilahnya berganti menjadi PRT atau pramuwisma. Bahkan sejak serial film yang berjudul Inem Pelayan Seksi di era tahun 1980-an, seakan menjadi legenda. Nama "lnem" tiba-tiba nangkring sebagai gelar untuk para PRT. Berapa jumlah mereka, sulit menemukan angka pasti. Konon, Biro Pusat Statistik (BPS) pun minim data.

Andai semua rumah golongan punya 1 atau 2 orang PRT, jumlahnya bisa jutaan orang. Aneh-nya, jumlah besar ini tak menjamin nasibnya "secerah" kolega di sektor lain, misalnya buruh pabrik. Entah karena para babu itu warisan kemalangan sejarah atau sebagai "alas kaki" feodalisme yang tak ingin dihapus oleh orde sejarah yang paling post modern sekalipun.

Nasib mereka selalu lemah, terlunta-lunta dan tertindas. Tidak aneh bila tak ada yang peduli dan berminat ''menyelamatkan" nasib suram mereka yang rentan secara hukum, kekerasan dan pelecehan seksual. Siapa yang mau tahu aspek pekerjaan PRT, berapa "durasi" jam kerja, jaminan kesehatan, upah dan lainnya.

Bila para buruh pabrik gigih unjuk rasa menuntut UMP, segera mendapat respon, sebab mereka punya wadah organisasi SPSI. Lha. PRT hanya bisa bungkam dan gigit jari. Barangkali upah mereka masih tetap antara Rp 250.000 - Rp 350.000/bulan (kota besar) dan Rp 150.000 - Rp 250.000 untuk kota kecil.

Maklum komunitas ini tak punya "media paguyuban" yang melindungi. Mereka hanya bergantung secara spekulatif pada majikan yang punya hati nurani, akal sehat dan rasa perikemanusiaan atau tidak. Padahal kalau seluruh PRT mogok, maka akan terjadi chaos, kekacauan.

Ironi, paradoks dan kontradiksi. Kehadiran PRT dilecehkan tapi sekaligus juga dihutuhkan. Kalau kita mau jujur, sebetulnya mereka adalah para karyawan super. Sebab, bekerja tanpa batas jam yang jelas tapi digaji sangat minus.

Tapi Kiai "mbeling" Emha Ainun Najib pernah berfatwa: Meskipun engkau babu dan miskin, jangan putus asa di dunia, sebab akhiratmu justru akan bagus. Kan babu itu artinya pintu. Babhul jannah artinya pintu surga. Dengan menjadi babu kita akan masuk surga.

S Joko Wiyono
Sudagaran Rt 5/Rw 1, Sukorejo

***

Kamar Kecil Masjid Demak

Seorang pengunjung masjid Agung Demak komplain di Piye ya tentang kondisi kamar kecil di lingkungan masjid yang sangat kotor. Selang beberapa hari saya ke masjid tersebut dan berharap takmir merasa malu dan tanggap untuk menyikat habis segala kotoran yang ada. Ternyata hal itu tidak terjadi.

Kondisi kamar kecil di masjid Agung Demak untuk kaum hawa masih saja kotor. Saya yang datang bersama teman dari luar kota tentu merasa malu. Kamar kecil pada dasarnya tempat untuk membersihkan diri dari benda kotor secara fisik sehingga tak sepantasnya dibiarkan kotor.

Dari banyak masjid yang saya singgahi, kondisi kamar kecilnya rata-rata memang jauh dari bersih dan nyaman. Beda jauh dengan lantai serambi yang mengkilap, kamar kecil yang letaknya di belakang itu kebersihannya menjadi nomor paling belakang.

Tentu saja tak nyaman membersihkan diri di dalam kamar kecil yang kotor. Alih-alih menjadi bersih, kita malah khawatir akan ditempeli kuman yang berjejalan di kamar kecil tersebut. Padahal dari kecil sudah diwelingi dengan untaian kata apik: "kebersihan adalah sebagian dari iman".

Ternyata kata-kata tersebut hanya pemanis di mimbar dan pajangan di taman, belum sepenuhnya menyatu dalam perilaku keseharian. Memang hanyalah kamar kecil, tapi pengaruhnya terhadap citra tak bisa dianggap kecil.

Apalagi di bulan Besar ini (Dulhijah) Masjid Agung Demak menerima ribuan pengunjung dari berbagai daerah dalam rentetan pesta Garebeg Besar. Dari kamar kecil itulah seorang tamu bisa menilai kepribadian si tuan rumah.

Indra Ari
Bakalrejo Rt 5/Rw I Guntur, Demak

***

Budaya Malu

Budaya adiluhung dari nenek moyang kini sudah dirusak oleh budaya tidak tahu malu, yang berakibat rusaknya moral kepribadian seseorang. Kalau ada ungkapan, uang adalah sumber kejahatan, maka kejahatan atau perbuatan nista adalah bersumber tidak punya rasa malu.

Ungkapan aja gawe wirang, aja ngisin-isini digantikan budaya modern: emangnya gue pikirin. Ini aneh tapi nyata. Kalau seorang anggota DPRD ketahuan korupsi, maka seluruh korps namanya rusak. Kalau seorang anggota polisi pungli, jelas gawe isin korpsnya.

Seseorang yang tebal rasa malunya akan berpikir seribu kali bila akan berbuat memalukan. Memang harus ada gebrakan untuk menumbuhkan rasa malu pada diri setiap orang, terlebih yang punya jabatan. Kalau ada rakyat buta aksara, kurang gizi, kelaparan, seharusnya kades, camat, bupati dan DPRD-nya punya rasa malu.

Bukan malah menyalahkan rakyat tidak mau sekolah, tidak tahu soal gizi, malas bekerja dan seribu alasan pelempar tanggung jawab. Korupsi tidak akan dapat diberantas bila manusianya tidak punya rasa malu. Rasa malu mencegah seseorang berbuat nista.

Masalahnya siapa yang harus menggerakkan timbulnya rasa malu. Bila anggota DPRD yang vokal dapat penghargaan, kenapa anggota yang korupsi tidak mendapat trofi malu?. Menurut saya, harus ada pihak yang mau berjuang khusus untuk menyebarkan rasa malu kepada semua golongan tanpa memfitnah.

Media massa bisa berperan aktif untuk itu. HAM dan asas praduga tak bersalah terkadang menghambat mempermalukan nista seseorang sehingga cuma mencantumkan inisial para tersangka. Para pimpinan semua agama sudah membina masyarakat agar tidak melanggar ajaran dan larangan agama.

Kiranya untuk setiap sumpah jabatan harus ditambah kalimat: Tidak akan melakukan perbuatan yang memalukan jabatan dan pemerintahan. Dengan sumpah itu pejabat yang melanggar bisa langsung dipecat. Siapa berani memulai, dialah pahlawan sejati memberantas kebobrokan moral bangsa .

Sudarjo
Jl S Parman 61, Purwokerto

***

Air Panas Belerang Candi Gedongsongo

Rencana Pemkab Semarang menambah nilai lebih bagi kawasan pariwisata Candi Gedongsongo dengan membendung aliran mata air dekat kawah belerang menjadi kolam air panas cukup cerdik. Hal ini memadukan unsur pariwisata dengan pengobatan sebab sebagian orang yakin air panas belerang, obat alami mengatasi penyakit kulit.

Kompleks candi Hindu peninggalan Kerajaan Mataram warisan Dinasti Sanjaya itu memang punya potensi dasar yang luar biasa. Pemandangan alamnya eksotik plus keunikan ragkaian candi temuan 741 yang tersebar di lereng Gunung Ungaran pada ketinggian 1.800 m di atas permukaan laut.

Masih ditunjang hawa alami nan segar khas pegunungan, sehingga memang sudah semestinya menjadi jujugan favorit masyarakat. Namun upaya mengindustrikan pariwisata mengindikasikan banyak hal di antaranya akses dari dan menuju lokasi.

Memang ada angkutan hijau pupus sekitar 75 unit, namun hanya bertrayek Babadan-Bandungan PP. Ada beberapa bus mini namun juga hanya sampai Bandungan atau Sumowono (dari Semarang). Sementara Isuzu dari Ambarawa hanya sampai pertigaan Sumowono selanjutnya disambung ojek bila ingin sampai Gedongsongo.

Rasanya keberadaan angkutan umum tersebut baru sebatas sebagai alat transportasi semata. Belum nyambung bila dikaitkan dengan 1 kesatuan dan 1 paket pariwisata. Bila pertimbangannya topografi jalan terutama tanjakan tajam 0,5 km menjelang Gedongsongo, bisa saja area parkir di bawah tanjakan dijadikan terminal mini.

Dengan demikian pengunjung tinggal jalan sebentar menuju Gedongsongo sambil melihat pemandangan kota bawah. Akan lebih menarik bila mobil angkutan umum di-body-paint-ing dengan seni air brush bergambar kompleks candi, kolam air panas, pemandangan alam.

Terkait rencana pengembangan Candi Gedongsongo mungkinkah trayek angkutan publik ikut-ikutan ditata ulang ? Substansinya membuka akses langsung ke kompleks Candi Gedongsongo tanpa harus opar-oper.

Noor Rofiq
Jl Wamena V/228 Beji, Ungaran


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA