logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 WACANA
Line

tajuk rencana

Jaringan Teroris, di Mana Saja Siapa Saja

- Serangkaian penangkapan orang-orang yang diduga membantu otak pelaku terorisme Noordin M Top di Semarang dan Klaten, pada pekan ini, menunjukkan jaringan teroris bisa di mana saja dan siapa saja. Mereka yang tidak pernah kita perkirakan, ternyata bagai jalma tan kena kinira. Orang yang sehari-hari bertingkah laku sopan, tidak pernah menerbitkan gangguan di lingkungan tempat tinggalnya, ramah-tamah, bisa saja berbeda dari kenyataan yang kita lihat dan kita kenal secara fisik. Serbatidak terduga, serbarapi! Persembunyian mereka lebih tepat disebut sebagai penyamaran, karena orang-orang itu tidak bersembunyi, tetapi menjalani kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat dalam interaksi sosial secara wajar.

- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri baru saja menangkap Joko "Padang", Ardi Wibowo di Semarang, serta Aditya Tri di Klaten. Berikutnya Puji Sriyono dan Wahyu. Mereka diamankan dengan dugaan turut membantu Noordin M Top dalam kasus bom Bali. Aksi Densus 88 ini merupakan hasil pengembangan penangkapan sebelumnya, yang dikaitkan dengan sejumlah tersangka bom Bali II yang belum lama ini digulung di Semarang. Keterkaitan itu tentu masih membutuhkan dukungan bukti-bukti. Namun, seandainya indikasi-indikasi awal ini mengarah kepada sangkaan, barang tentu merupakan kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan pengaruh "binaan" teroris sudah benar-benar menyebar.

- Ya, benar di mana saja dan siapa saja. Kalau pada penangkapan yang lalu kita dihenyakkan oleh sejumlah figur tak ternyana, maka yang terjadi belakangan benar-benar memperkuat kenyataan tersebut. Kita seolah-olah dipaksa agar sulit memercayai apa yang terjadi sebagai interaksi wajar di lingkungan masing-masing, karena bisa saja yang kita temui sehari-hari berbeda dari endapan di dalamnya. Atau kita seakan-akan "diajari" untuk saling mencurigai antarsesama, karena bisa jadi kaki tangan teroris itu adalah orang-orang yang kita kenal dekat. Bagaimanapun jalan pikiran ini dapat dipahami, tetapi tentu saja tidak bisa dibenarkan untuk terus berkembang menjadi premis dalam kehidupan dan komunikasi kemasyarakatan.

- Salah satu "keberhasilan" teroris dan jaringannya adalah kemampuan untuk menumbuhkan sikap saling curiga. Dengan jaringan luas dan kuat, maka letupan penangkapan di sejumlah tempat harus diartikan sebagai peluang untuk mencari "aman" di tempat yang lain. Orang-orang Noordin M Top terbukti menebar di banyak tempat, karena lapis demi lapis binaan itu berkemungkinan untuk membentuk sel-sel yang berkembang biak. Kita beri penghargaan dan respek terhadap sukses Densus 88 Antiteror dalam mengungkap satu demi satu temuan di balik jaringan tersebut. Tentu semua itu harus mendapat dukungan kuat masyarakat. Bentuk support itu bisa berupa saling bekerja sama dalam bentuk-bentuk yang alamiah.

- Memperkuat basis komunikasi massa di lapis-lapis lingkungan kemasyarakatan merupakan salah satu bentuk dukungan kepada polisi. Yang harus dikembangkan bukanlah sikap saling curiga, tetapi meningkatkan kewaspadaan. Fenomena "penyamaran" secara alamiah patut membuat kita berhati-hati kepada pihak yang kurang kita kenal, atau kehadiran orang-orang baru di sekitar kita. Namun komunikasi yang intens antaranggota kelompok masyarakat di berbagai level merupakan jaring pengaman dan kontrol sosial paling awal yang sehat. Harmonisasi sosial, setidak-tidaknya, membentuk jaring kontrol untuk membangun sikap saling menghargai, memanusiawikan, dan menghindarkan peluang munculnya bias perilaku.

- Tumbuhnya kejahatan terorisme memang tidak dapat dipandang secara sederhana. Masalahnya sangat kompleks, karena terdapat faktor-faktor determinan yang berasal dari dalam diri si pelaku sendiri, kondisi sosial-politik-ekonomi suatu negara, hingga dorongan dari konstelasi politik internasional. Yang menjadi "pekerjaan rumah" secara terus-menerus bagi kita tentulah jangan sampai faktor-faktor pendorong itu menjadi pembenar untuk tumbuh di sekeliling kita. Kita tidak dapat menyikapinya sebagai dorongan manusiawi, karena yang harus dilakukan adalah bagaimana mempersempit ruang gerak penguatan jaringan itu dengan menciptakan atmosfer preventif. Yakni dengan lingkungan masyarakat yang berdaya tahan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA