logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 NASIONAL
Line

Hujan dan Kesulitan Aspal Hambat Pemeliharaan Jalan

SEMARANG - Kesulitan pasokan aspal dari Pertamina dan puncak hujan yang terjadi pada Januari-Maret, menjadi penghambat pemeliharaan kerusakan jalan nasional. Khusus kesulitan pasokan aspal, telah terjadi sejak Mei 2005.

Demikian diungkapkan Purnarachman, Direktur Jalan dan Jembatan Wilayah Barat Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Selasa (17/1) di Semarang, sebelum memantau kondisi jalan nasional di Jateng dan Jabar.

Purnarachman menjelaskan, kesulitan aspal sampai sekarang masih terjadi. Pasokan aspal yang diterima Ditjen Bina Marga hanya sepertiga dari kebutuhan yang seharusnya diterima. Sejak Mei 2005 atau sebelum kenaikan harga bahan bakatr minyak (BBM) pada Maret 2005, kesulitan itu sudah terasa.

Kondisi itu memuncak, setelah kenaikan harga BBM Oktober 2005.

''Harapan kami, setelah kenaikan harga BBM akan lancar, tapi kenyataannya tidak, sampai sekarang. Kesulitan mendapatkan aspal, juga merupakan faktor memperlambat pemeliharaan jalan,'' jelas dia didampingi Kepala Dinas Bina Marga Jateng, Ir Danang Atmodjo MT.

Dia mengemukakan, dalam keadaan normal kebutuhan aspal setiap hari 250 ton yang mampu untuk memperbaiki 300 meter jalan. Dicontohkan, suplai yang diterima jauh di bawah rata-rata, karena seminggu hanya menerima suplai satu kali, padahal idealnya minimal tiga kali suplai.

''Jadi, pasokan aspal sekarang hanya 1/3 dari kebutuhan. Harapan kami, Pertamina di Cilacap mampu menyuplai secara kontinu,'' katanya.

Selain bersama Danang Atmodjo, pemantauan jalan diikuti pula oleh Kepala Satuan Kerja Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Herman Suroyo, serta Kepala Satuan Kerja Pembangunan Jalan dan Jembatan, Bambang Nurhadi, dan sejumlah staf lainnya.

Meningkat

Lebih lanjut Purnarachman menjelaskan, anggaran perbaikan jalan nasional pada tahun anggaran 2006 mengalami kenaikan. Sekarang, untuk perbaikan setiap kilometer jalan nasional dalam setahun dipatok anggaran antara Rp 17 juta-Rp 20 juta.

Menyinggung kerusakan jalan nasional di wilayah Jateng, dia mengklaim hanya sekitar 10 % -15 %. Adapun 85 % -90 % ruas jalan lainnya dalam kondisi mantap, dalam arti keadaannya bagus dan sedang, dari total panjang jalan nasional di Jateng 1.258 kilometer.

Menurut penuturan dia, setiap awal tahun memang relatif sering muncul ruas jalan yang berlubang. Kondisi terparah kerusakan jalan itu, biasanya pada Januari-Maret, karena saat itu sedang puncaknya musim hujan. (G17-60a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA