| Rabu, 18 Januari 2006 | NASIONAL |
Getaran Tanah Terasa sejak Tsunami
ENTAH apa ada hubungan geografis atau tidak, yang jelas warga Dukuh Silenggak, Desa Tlahab Kidul, mulai merasakan adanya getaran tanah ketika bencana tsunami menghancurkan Aceh akhir 2004 silam. Sejak saat itu, getaran demi getaran mengguncang warga. Meskipun getaran itu membuat retakan tanah yang panjang dan dalam di ruang rumah, warga enggan pindah. Mereka malah menguruk kembali retakan yang menganga itu dengan tanah dan batu-batuan; sedangkan retakan yang kecil langsung ditutup dengan adukan semen. Retakan itu banyak terlihat jelas di dalam rumah. Adapun di jalanan atau halaman, tidak begitu terlihat. Dimungkinkan, retakan di luar rumah itu langsung tertutup kembali oleh tanah secara alami ketika hujan turun. Retakan di dalam rumah, harus ditutup sendiri oleh pemilik rumah. Getaran tanah yang cukup kuat, mengguncang lagi pada saat Dukuh Sijeruk, Banjarnegara, dilanda tanah longsor. Tetapi, lagi-lagi warga menolak pindah ketika pihak desa menyarankan mereka untuk meninggalkan lokasi. Mereka menolak, karena merasa sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu dan selama ini aman-aman saja. Padahal, saat itu kondisi retakan sudah banyak yang mengkhawatirkan. ''Ada yang sebagian ruang tamunya ambles hingga hampir satu meter. Ada juga yang lantainya merekah hingga satu meter dengan kedalaman lebih dari lima meter. Sebab, ketika dimasuki bilah bambu panjang tetap tidak menyentuh dasarnya,'' kata kepala desa, Miardjo. Sikap warga yang menolak relokasi itu berubah, ketika mereka menyaksikan situasi Dukuh Sijeruk, Banjarnegara, yang hancur, lewat tayangan televisi. Maka ketika malam Idul Adha (9/1) terasa lagi ada getaran tanah, warga mulai cemas. Apalagi, getaran baru itu menyebabkan retakan baru pula. Akhirnya, warga memutuskan mengungsi Kamis (12/1) siang. Cari Selamat ''Kami takut tinggal di rumah lagi. Takut jika sewaktu-waktu ada getaran yang membuat rumah dan tanah di sekitarnya ambrol. Kami tidak mau jadi korban seperti di Banjarnegara. Yang penting, kami mencari selamat dulu,'' ujar seorang warga, Suhad, yang dibenarkan oleh beberapa tetangganya. Saat tim geologi dari Unsoed Purwokerto yang dipimpin Dekan Fakultas Teknik Agus Marguwiyatno turun ke Silenggak, mereka menemukan pola retakan tanah yang memanjang tidak terputus dari satu rumah ke rumah lainnya. Diduga, di bawah lapisan tanah terdapat aliran air yang cukup besar. Aliran itu berada di atas lapisan batu padas. Tanah yang berada tepat di atas aliran air itu, sedikit demi sedikit retak dan ambles mengikuti arah air. Dikhawatirkan, retakan itu semakin memanjang dan semakin dalam, karena hujan masih turun di wilayah tersebut. Curah hujan yang tinggi itu, menyebabkan aliran air di bawah tanah semakin besar. Selama ini, pergeseran tanah akibat aliran air terjadi sedikit demi sedikit. Warga sering tidak menyadari lantai rumahnya retak. Mereka hanya tahu tiang penyangga atap rumah mengeluarkan suara berderit. Tahu-tahu, keesokan harinya, lantai rumah mereka sudah terbelah memanjang. ''Di sebuah bukit, ada pohon kelapa yang sudah bergeser dari tempatnya semula sejauh 25 meter. Pergeseran sejauh itu, terjadi selama beberapa tahun. Jadi memang pergerakan tanah tidak terasa, tetapi ada,'' ujar Waryan, seorang warga. Ketakutan warga akan bencana susulan yang lebih dahsyat, membantu Pemkab dalam upaya penyelamatan. Mereka pun setuju, ketika pemerintah menyediakan lahan relokasi tidak jauh dari balai desa. Kini, yang harus dilakukan adalah secepatnya membangun kembali rumah warga, sehingga mereka bisa bekerja dan kembali hidup normal.(Arief Noegroho-41a) | ||||