| Rabu, 18 Januari 2006 | NASIONAL |
Puji Sriyono Pernah Jadi Anggota MMIELIANINGRUM tampak berusaha tabah atas peristiwa yang menimpa suaminya, Puji Sriyono. Kemarin ia masih sibuk menjemur pakaian anak-anaknya di depan rumahnya di Kampung Sumuradem RT 3 RW 1, Bangetayu Kulon, Semarang. Simpati sejumlah tetangga dekat kepada nasibnya, membuat Eli-panggilan Elianingrum-semakin tegar. Meski merasa cap sebagai istri tersangka teroris telah tersandangnya, toh dia tidak canggung hidup bertetangga. "Bagi kami, tidak ada masalah. Tetangga di sini baik-baik dan tidak mempermasalahkan soal itu. Hubungan kami baik-baik saja," tutur Eli ketika ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (17/1). Ungkapan Eli pun digayungsambuti seorang ibu yang menemani Eli menjemur pakaian. "Hubungan kami baik. Apa yang dikhawatirkan, Pak Puji itu orangnya baik. Hidup bertetangga secara normal, tidak ada perlilaku atau kegiatan yang aneh-aneh pada dirinya. Apalagi terkait aksi teroris seperti Dr Azahari atau Noordin M Top, kami tidak percaya," kata seorang wanita bertubuh gempal itu, seolah menguatkan pernyataan Eli. Justru yang kasihan, kata wanita yang menolak disebutkan namanya itu, adalah anak-anak Eli. Pasalnya di tengah pergaulan kawan-kawannya, mereka disebut-sebut anaknya tersangka teroris. "Kan kasihan kalau begitu, coba bayangkan bagaimana perasaan ibunya (Eli-Red) bila mendengar pengaduan anaknya. Padahal, tuduhan itu belum tentu benar. Lantas bagaimana caranya membersihkan nama baik Pak Puji Sriyono bila ternyata tidak terbukti keterlibatannya dengan aksi teroris?" katanya, penuh pertanyaan. Bagi Eli, ditinggal suaminya merupakan peristiwa yang memprihatinkan. Sebab, Puji adalah tulang punggung keluarganya. Pemenuhan kebutuhan keluarganya hanya bergantung pada penghasilan Puji Sriyono, sebagai sopir sebuah toko penjual perkakas rumah tangga di Petolongan. "Penghasilan suami saya harian. Kalau untuk memenuhi kebutuhan keluarga ya pas-pasan. Sekarang suami ditangkap polisi, kami tidak punya lagi sumber penghasilan untuk kebutuhan lima anak saya," kata wanita yang mengaku berasal dari Lamper Tengah, Semarang Selatan itu. Beruntung, dia masih mempunyai famili di Semarang. Sejak peristiwa penangkapan suaminya oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Sabtu (14/1), sudah ada yang menengoknya. Sedikit bantuan telah diterimanya meski hanya cukup untuk satu atau dua hari ke depan. Dia dinikahi Puji Sriyono, warga Rejosari, Semarang Timur sekitar 11 tahun lalu. Tiga tahun lalu, suaminya memiliki rezeki untuk membeli tanah dan membangun rumah sekadarnya di Kampung Sumuradem RT 3 RW 1, Bangetayu Kulon, Genuk. Sejak muda, kata dia, suaminya memang suka mengaji agama. Dia sering mengikuti pengajian-pengajian yang mengajarkan tentang kemurnian aqidah Islam dan kebagusan akhlak. Tak Yakin Karena itu, Eli merasa tidak yakin bila suaminya terlibat dalam kasus teror yang dikomandani Dr Azahari dan Noordin M Top. Meski sejak muda sangat senang mengikuti pengajian bersama jamaah pimpunan Ustad Najib, kata Eli, suaminya sudah lama tidak aktif. Bahkan Puji juga pernah menjadi anggota Majlis Mujahidin Indonesia (MMI). "Tetapi dia tidak suka latihan perang. Dia cuma senang ikut pengajian di jamaahnya, kalau ada rapat-rapat kadang-kadang juga ikut. Itu terjadi sudah lama, beberapa tahun terakhir ini dia tidak lagi mengikuti lagi. Kehidupannya normal layaknya orang biasa. Pulang kerja istirahat, lalu shalat di masjid dan ikut kumpulan warga, termasuk pengajian di kampung," katanya. Eli menyatakan tidak mengetahui apakah suaminya mengenal Joko pemilik RM Selera di Ruko Blok A-9 di Jl Supriyadi, Kelurahan Kalicari. Yang diketahuianya, suaminya tidak pernah mendatangkan teman-temannya di rumah. Di sisi lain, sebenarnya Puji sudah berencana menjual rumahnya. Namun sebelum niatnya kesampaian, ia malah berurusan dengan Densus 88 Mabes Polri. Toh begitu, niat itu masih ditegaskan oleh Eli. "Kalau ada yang mau, rumah dan tanah ini akan saya jual Rp 70 juta," katanya seraya tidak mengatakan akan pindah ke mana dia setelah rumah itu laku nanti.(Karyadi-41) |