| Rabu, 18 Januari 2006 | NASIONAL |
Dari Lelang Barang Koleksi Gus DurJas saat Bertemu Clinton Laku Rp 35 Juta
"Untuk kesekian kali/mayat-mayat berkaparan/di sela-sela puing rumah/tertimbun bumi yang runtuh...." PENGGALAN sajak yang dibacakan Prof Ir H Eko Budihardjo MSc saat lelang koleksi Gus Dur, Senin (16/1) malam, itu melukiskan penderitaan warga Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, yang tertimpa tanah longsor beberapa waktu lalu. Hingga kini peristiwa itu masih menyisakan luka dan trauma. Keharuan pun langsung menyergap dalam acara Malam Galang Dana untuk korban bencana yang digelar DPW PKB Jateng di Hotel Horison Semarang malam itu. Betapa tidak, saat Kusnadi, Sutini, dan Duryati (ketiganya warga Dusun Gunungraja) akan melakukan kesaksian, mereka malah kembali terkenang bencana yang merenggut keluarganya. Kusnadi tak kuasa menahan kepedihan hatinya. Kepala Dusun (Kadus) itu pun menangis histeris dalam dekapan Gubernur Jateng Mardiyanto. Gubernur, Wakil Gubernur Ali Mufiz, Yenny Zanuba Abdurrahman Wahid, dan Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno tak sanggup menenangkannya. Sesaat kemudian pria itu lunglai tak sadarkan diri. Sutini (15) dan Duryati (15) yang kehilangan seluruh anggota keluarganya pun tak kuasa menahan air mata. Namun, mereka tampak lebih tabah. Akhirnya testimoni itu pun batal digelar. Beberapa saat sebelumnya, Yenny, putri Gus Dur, telah berkomitmen mengangkat kedua siswi kelas tiga MTS Cokroaminoto, Sijeruk, menjadi saudara. Dia juga berjanji akan menanggung masa depan mereka. Tak hanya itu, Rektor Undip Prof Eko Budihardjo pun menyatakan tekadnya untuk memperjuangkan mereka dapat belajar di PTN ternama itu. "Saya selaku rektor akan memperjuangkan nasib kalian berdua, agar nanti bisa kuliah di Undip. Saya benar-benar akan memperjuangkannya," kata Eko sambil tersedu-sedu tak mampu menahan tangis. Kedua gadis belia yang bercita-cita jadi guru itu pun hanya terpaku. "Saya bersyukur masih banyak orang yang peduli terhadap nasib kami. Semoga kebaikan mereka dibalas setimpal oleh Yang Mahakuasa," kata Sutini kepada Suara Merdeka. Ya, lelang koleksi Gus Dur itu memang menyiratkan secercah harapan bagi para korban. Dana dari dermawan yang hadir terkumpul cukup banyak. Gubernur dan wakilnya memberikan sumbangan masing-masing Rp 25 juta dan Rp 20 juta. Sugiyanto dari PT Nojorono Kudus pun secara spontan memberikan Rp 25 juta. Begitu pula keluarga almarhum Agus Sunoto yang memberikan santunan Rp 10 juta. Dana itu berasal dari sumbangan spontan. Belum lagi menghitung hasil lelang koleksi Gus Dur. Kemeja batik sutera milik Gus Dur rancangan Adjie Notonegoro yang sering dikenakan dalam berbagai acara kepresidenan terjual senilai Rp 25 juta. Adalah Ir Budi Dharmawan, pengusaha asal Semarang, yang memenangi lelang barang pertama yang dibuka dengan harga Rp 15 juta tersebut. Jas milik mantan Presiden RI itu yang dipakai saat bertemu Presiden AS Bill Clinton terjual Rp 35 juta kepada Gubernur Mardiyanto. Barang-barang lainnya yang dilelang malam itu di antaranya sepatu sandal yang diraih Bupati Wonosobo Drs Kholiq Arief. Peci khas Gorontalo dimenangkan Eko Budihardjo, serta tongkat didapat Wakil Bupati Sukoharjo Muhammad Toha. Panitia lelang masih menghitung total dana yang diperoleh malam itu. Menurut Ketua DPW PKB Jateng Abdul Kadir Karding, dana yang terkumpul akan diserahkan seluruhnya kepada korban bencana di Banjarnegara. "Duka Banjarnegara adalah duka kita semua. Bukan hanya duka warga Jateng, melainkan juga duka Indonesia. Semoga Allah memberikan kekuatan dan ketabahan kepada mereka yang terkena bencana," katanya. (Saptono JS, Abduh Imanulhaq-46t) | ||||