logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 NASIONAL
Line

Eli Sesalkan Tindakan Polisi

  • Prapto Dibawa ke Bali

SEMARANG-Istri Puji Sriyono, Elianingrum (32), warga Sumuradem RT 3 RW 1, Bangetayu Kulon, Semarang, mempersoalkan prosedur penangkapan dan penggeledahan yang dilakukan oleh anggota Densus 88 Antiteror Mabes Polri sepanjang Sabtu (13/1) hingga Senin (16/1).

Sementara itu, seorang karyawan RM Selera, Wahyu, ditangkap anggota Densus 88 di RM Selera Ruko Jl Supriyadi Blok A-9. Wahyu kemudian dibawa polisi ke suatu tempat yang dirahasiakan.

Mengenai penangkapan Puji, Elianingrum merasa sangat keberatan. Dia menilai cara-cara polisi bukannya penangkapan, melainkan penculikan. Padahal, suami dan dirinya berada di rumah.

''Kok tahu-tahu dibawa begitu saja dan diboncengkan naik sepeda motor oleh dua orang polisi. Apalagi, polisi tidak memberikan surat penangkapan. Saat itu suami saya tidak sempat mengenakan sandal. Sedangkan saya berada di dalam kamar mandi,'' kata Elianingrum di rumahnya, Selasa (17/1).

Yang mengetahui penangkapan itu, tambah dia, malah anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Cara-cara seperti itu yang membuatnya sangat menyesalkan.

Dengan kejadian itu, polisi telah menanamkan ketakutan kepada anak-anaknya. Sebab saat ditangkap, anak-anaknya melihat kedua tangan ayahnya dipegang erat-erat di belakang punggung layaknya pelaku kejahatan kriminal yang ditayangkan di televisi.

''Padahal, tuduhan terlibat aksi teroris kepada suami saya kan belum jelas kebenarannya,'' ucapnya.

''Pada malamnya, sampai-sampai anak saya selalu khawatir atas nasib ayahnya. Kalau-kalau ayahnya dipukuli polisi seperti yang ada di televisi,'' katanya.

Menurutnya, polisi bisa datang baik-baik. Polisi bisa memberitahukan kepadanya selaku istri Puji Sriyono, yang ada di rumah. Anehnya, polisi baru memberikan surat penangkapan terhadap suaminya sebagai tersangka yang diduga terlibat aksi teroris, Minggu (15/1) malam.

Seperti diberitakan SM (17/1), Puji Sriyono (35), warga Kampung Sumuradem RT 3 RW 1, Kelurahan Bangetayu Kulon, Genuk, ditangkap anggota Densus 88 Mabes Polri, Sabtu (14/1).

Dia dicurigai oleh polisi memiliki hubungan dengan sejumlah tersangka bom Bali II, yakni Dwi Widyarto alias Wiwid (33) warga Jl Menjangan Dalam III, Anif Solchanudin (24) warga Jl Pamularsih IV, dan Cholili (25) warga Malang, Jawa Timur yang juga kurir Dr Azahari.

Penangkapan itu menyusul sehari setelah ditangkapnya Joko warga Solo, pemilik RM Padang ''Selera'' di Ruko Jl Supriyadi Blok A-9, Kalicari, Pedurungan, dan seorang karyawannya, Prapto, yang belum diketahui secara jelas tempat tinggalnya. Selain itu, Ardi Wibowo warga Jl Bukti Cempaka V/148, Perumahan Sendangmulyo, Tembalang, dan Aditya warga Genuk Karanglo, Candisari, Semarang Selatan.

Tak Bersurat

Lebih lanjut Elianingrum mengemukakan, dirinya makin terguncang ketika terjadi penggeledahan yang dilakukan oleh polisi, Senin (16/1) pukul 14.00. Penggeledahan itu tidak dilengkapi surat perintah, berbeda dari penggeledahan yang dilakukan dua jam sebelumnya oleh petugas Polda Jateng, yang menyertakan surat pemberitahuan dan disaksikan Ketua RT setempat.

Dua orang polisi yang belakangan dia ketahui sebagai anggota polsek setempat, memaksa masuk ke dalam rumah dan memintanya agar bersedia dimintai keterangan di rumah Ketua RT 3 RW 1, Sopuan, oleh Kapolsek Genuk Iptu Muryadi.

''Saya baru diberi surat penyitaan barang bukti, hari ini (kemarin pukul 08.00). Barang-barang yang disita polisi itu hanya buku-buku dan majalah Islami. Tidak ada buku atau majalah milik suami saya yang berisi ajaran kekerasan.

Di antaranya, buku La Tahzan (Jangan Bersedih karangan Aid Al-Qarny dari Arab Saudi, yang berisi materi tentang akhlak-Red) dan Al Wara' Walbara' (karangan Muhammad Bin Salim Al Qathani berisi tentang ajaran aqidah dan sikap seorang muslim kepada Islam-Red),'' katanya.

Sedangkan gamis dan sorban milik suaminya, kata dia, itu hanya gamis yang biasa dipakai untuk shalat Jumat di masjid. Suaminya, tidak pernah mengenakan gamis warna putih itu kecuali sedang shalat Jumat.

Dibawa ke Bali

Sementara itu teka-teki mengenai peran dan keberadaan Prapto, salah satu karyawan RM Selera mulai memperlihatkan titik terang. Prapto, yang semula diperkirakan tak terlibat dan ditangkap hanya karena kebetulan sedang bersama Joko, diduga terkait jaringan teroris.

Prapto kemarin bahkan dibawa ke Polda Bali. Hal ini mendatangkan dugaan, lelaki yang belum jelas asal-usulnya itu juga terlibat bom Bali II.

Sejauh ini belum ada konfirmasi dari pejabat kepolisian mengenai hal itu. Namun yang jelas, sebuah sumber di Bandara A Yani memastikan Prapto diterbangkan ke Denpasar, Bali dengan pesawat Mandala pukul 06.40. Ia dikawal dua polisi berpakaian preman.

Berbeda dengan tersangka teroris terdahulu seperti Wiwid atau Anif, yang juga dibawa ke Polda Bali dengan pengamanan ketat dan tertutup, pengawalan Prapto terlihat lebih longgar. Polisi membawanya melalui pintu keberangkatan umum.

Namun demikian pengamanan standar tetap dilakukan. Kedua tangan Prapto diborgol.

''Mungkin agar tidak terlihat mencolok, borgol ditutupi dengan kaus. Tapi sebagian borgol itu masih terlihat,'' ujar sumber tersebut.

Menurut dia, sebelumnya ada empat polisi yang mengawal Prapto ke bandara. Tapi hanya dua yang naik ke pesawat, sedangkan dua lainnya balik kanan dan keluar bandara naik mobil.

Sumber-sumber lain menyebutkan, para tersangka lainnya seperti Ardi Wibowo, Aditya, dan Joko sudah terlebih dahulu diterbangkan ke Bali.

Penangkapan Lagi

Sementara itu, seorang karyawan RM Selera, Wahyu, ditangkap anggota Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Senin (16/1). Menurut sumber, penangkapan itu dilakukan polisi dengan cara menjebak Wahyu.

Sebelumnya, seorang polisi sudah menyanggong di dalam RM Selera. Ketika Wahyu memasukinya, polisi meringkusnya dan langsung membawa Wahyu ke suatu tempat menggunakan sebuah mobil.

Penangkapan yang terkesan diam-diam berjalan cukup rapi. Tak ada seorang pun yang tahu, termasuk tetangga kanan-kiri RM Selera dan pengurus RT setempat.

Jeki (40), seorang karyawan di ruko Blok A-8 mengaku tidak tahu persis tentang penangkapan tersebut. Setahu dia, RM Selera sejak pagi hingga malam selalu tutup. Dia sempat melihat ada ramai-ramai di depan RM Selera pukul 21.30.

''Saya tidak mengira kalau saat itu ada penangkapan lagi. Karena malam itu lembur, saya tidak tertarik keluar kantor,'' aku Jeki.

Petugas keamanan RT setempat, Suparman juga mengaku tidak mengetahui adanya penangkapan terhadap Wahyu, seorang karyawan Joko. Dia tidak tahu apakah ada penangkapan maupun penggeledahan lagi, sebab dia selaku pengurus RT tidak mendapat pemberitahuan. ''Saya tidak tahu,'' katanya.(G5,G3-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA